Jumat 17 Mar 2023 08:20 WIB

Iran Sepakat Berhenti Kirim Senjata ke Houthi di Yaman

Penghentian pengiriman senjata ke Houthi akan mempercepat upaya perdamaian di Yaman

Rep: Rizky Jaramaya / Lintar Satria / Kamran Dikarma/ Red: Esthi Maharani
 Iran telah setuju untuk menghentikan pengiriman senjata ke sekutu Houthi di Yaman.
Foto: AP Photo/Hani Mohammed
Iran telah setuju untuk menghentikan pengiriman senjata ke sekutu Houthi di Yaman.

REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI -- Iran telah setuju untuk menghentikan pengiriman senjata ke sekutu Houthi di Yaman. Langkah ini diambil sebagai bagian dari kesepakatan untuk membangun kembali hubungan diplomatik dengan Arab Saudi yang ditengahi oleh Cina.

Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip pejabat Amerika Serikat (AS) dan Saudi mengatakan, langkah Teheran untuk menghentikan pengiriman senjata akan mempercepat upaya mencapai perdamaian di Yaman. Karena dapat menekan kelompok militan Houthi untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik.

Baca Juga

Gencatan senjata yang disponsori PBB di Yaman tahun lalu hanya berlangsung enam bulan. Houthi menolak seruan untuk de-eskalasi dan perpanjangan gencatan senjata. Teheran secara terbuka menyangkal bahwa mereka memasok senjata ke Houthi. Tetapi inspektur PBB telah berulang kali melacak pengiriman senjata yang disita kembali ke Iran.

Para pejabat dari Saudi dan Iran mengatakan, Iran akan menekan Houthi untuk mengakhiri serangan terhadap Arab Saudi. Wall Street Journal melaporkan, Arab Saudi mengharapkan Iran menghormati embargo senjata PBB yang bertujuan untuk mencegah senjata mencapai Houthi, dan mengurangi kemampuan kelompok itu untuk menyerang Kerajaan Saudi dan menguasai lebih banyak wilayah di Yaman.

"Kesepakatan Saudi-Iran memulihkan hubungan diplomatik memberikan dorongan untuk prospek kesepakatan (Yaman) dalam waktu dekat, sementara pendekatan Iran terhadap konflik akan menjadi semacam ujian lakmus untuk keberhasilan kesepakatan diplomatik minggu lalu," ujar seorang pejabat AS yang dikutip oleh Wall Street Journal, Kamis (16/3/2023).

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, terbang ke Teheran untuk berdiskusi dengan para pejabat tentang bagaimana mengakhiri perang Yaman. Grundberg kemudian akan terbang ke Riyadh. Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian meyakinkan Grundberg bahwa Teheran siap berbuat lebih banyak untuk membantu mengakhiri konflik di Yaman. Utusan khusus AS untuk Yaman, Tim Lenderking, juga bertemu dengan para pejabat Saudi dalam upaya untuk memulai pembicaraan damai.

 Arab Saudi dan Iran juga sepakat untuk membuka kembali kedutaan dan misi mereka dalam waktu dua bulan. Mereka menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan negara dan tidak campur tangan dalam urusan internal negara. Pemulihan hubungan Saudi-Iran disambut secara luas oleh komunitas global.

“Karena Arab Saudi dan Iran sama-sama penting untuk keamanan kawasan, dimulainya kembali hubungan bilateral mereka dapat  berkontribusi pada stabilisasi kawasan secara keseluruhan," ujar pernyataan Uni Eropa.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement