Jumat 17 Mar 2023 18:55 WIB

Harapan dan Ketidakpastian Berkelindan di Irak 

Anak muda Irak tidak akan berhenti sampai negara mereka lebih baik.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Ferry kisihandi
 Orang-orang yang berjalan di sepanjang Rasheed Street tercermin dalam potret hitam-putih Presiden Irak Saddam Hussein di Bagdad, Irak, 26 Februari 2003 (Diterbitkan 15 Maret 2023). Pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat melancarkan invasi militer ke Irak pada 19 Maret 2003 menyusul mantan Presiden George W. Bush, dan klaim pemerintahannya bahwa Irak telah menimbun senjata pemusnah massal.
Foto:

Saat matahari terbenam di Fallujah, kota utama wilayah Anbar yang pernah menjadi pusat kegiatan Alqaidah di Irak kemudian dikuasai ISIS, tiga remaja berusia 18 tahun berjalan di bawah jembatan Sungai Efrat. Pulang dari sekolah untuk makan siang.

Kini Fallujah berkilau dengan apartemen-apartemen, rumah sakit, taman hiburan, dan tempat jalan kaki. Namun petugas khawatir membiarkan wartawan Barat berkeliaran tanpa pengawalan. Menandakan masih ada ketidakpastian.

"Kami kehilangan banyak, hampir seluruh anggota keluarga," kata imam masjid Dr Huthifa Alissawi mengenang masa perang. Kini ia menikmati keamanan. "Bila tetap seperti sekarang, ini sempurna," katanya.

Kota Sadr yang berisi warga kelas pekerja di timur Baghdad, dihuni lebih dari 1,5 juta orang. Di jalanan yang tercemar polusi, dua orang teman memiliki toko bersebelahan, Haider al-Saady tukang tambal ban dan Ali al-Mummadwi yang menjual kayu.

Pria berusia 28 dan 22 tahun itu mencemooh janji presiden Irak mengenai kehidupan lebih baik. "Itu cuma omongan," kata al-Saady. Rekannya sepakat. "Saddam seorang diktator, tapi kehidupan rakyat lebih baik, lebih damai," katanya.

Irak yang baru lebih menjanjikan bagi anak muda berpendidikan seperti Muammel Sharba, 38 tahun. Dosen di Middle Technical University di Baquba yang pernah hancur oleh perang, itu meninggalkan Irak ke Hungaria untuk mendapatkan gelar doktoralnya.

Ia baru pulang tahun lalu, awalnya ia hanya ingin memenuhi kewajibannya pada universitas lalu kembali ke Hungaria. Sharba menjadi pengendara sepeda di Hungaria tapi tidak pernah membayangkan dapat menikmati hobinya di Irak.

Kini ia menemukan komunitas sepeda. Ia menyadari teknologi semakin canggih dan birokrasi berkurang. Kini ia berencana tetap tinggal di Irak.

"Saya pikir negara-negara Eropa tak selalu seperti yang sekarang, saya yakin mereka perlu melewati tahapan-tahapan ini juga," katanya. 

 

sumber : ap
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement