Jumat 24 Mar 2023 13:54 WIB

Intelijen AS Dihantui Kegagalan Temukan Senjata Pemusnah Massal Irak

Sekarang ini kesempatan bagi AS mempelajari kejadian masa lalu.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Ferry kisihandi
 FILE - Potret Saddam Hussein masih tergantung di gedung Kementerian Transportasi dan Komunikasi yang terbakar di Bagdad, 9 April 2003. Ribuan orang mengamuk saat pasukan AS bergerak ke ibu kota Irak.
Foto: AP Photo/Jerome Delay, File
FILE - Potret Saddam Hussein masih tergantung di gedung Kementerian Transportasi dan Komunikasi yang terbakar di Bagdad, 9 April 2003. Ribuan orang mengamuk saat pasukan AS bergerak ke ibu kota Irak.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Di gedung Capitol AS, anggota House Representative Jason Crow menyimpan beberapa kenang-kenangan perang. Berjajar di rak adalah tanda pengenal militernya, sirip ekor mortir bekas, dan pecahan peluru yang dihentikan oleh pelindung tubuhnya.

Dua dekade lalu, Crow adalah pemimpin peleton berusia 24 tahun dalam invasi Amerika ke Irak.

Anggota peleton membawa masker gas dan perlengkapan untuk dikenakan di atas seragam mereka demi melindungi diri dari senjata kimia yang diyakini AS, - yang kemudian hari keliru-, mungkin digunakan pasukan Irak untuk melawan mereka.

Kini Crow duduk di komite yang mengawasi badan militer dan intelijen AS. Ia masih mengingat kesalahan dalam perang Irak. “Bukan hiperbola mengatakan itu pengalaman yang mengubah hidup dan kerangka hidup,” kata anggota parlemen dari Partai Demokrat asal Colorado ini seperti dilansir Associated Press, Kamis (23/3/2023)

Kegagalan perang Irak sangat mengubah agen mata-mata AS dan generasi perwira intelijen dan anggota parlemen. Mereka yang akhirnya membantu mendorong reorganisasi besar-besaran komunitas intelijen AS.

CIA kehilangan peran pengawasannya atas agen mata-mata lainnya, dan reformasi dimaksudkan untuk memungkinkan analis mengevaluasi sumber dengan lebih baik dan menantang kesimpulan untuk kemungkinan adanya bias.

Tetapi pernyataan yang pada akhirnya salah tentang program senjata nuklir, biologi, dan kimia Irak berulang kali dikutip untuk membangun dukungan untuk perang di Amerika dan luar negeri, itu telah merusak kredibilitas intelijen AS.

Sebanyak 300 ribu warga sipil tewas dalam dua dekade konflik di Irak, menurut perkiraan Universitas Brown. AS kehilangan 4.500 tentara dan menghabiskan 2 triliun dolar AS, hanya untuk Perang Irak, termasuk kampanye berikutnya di Irak dan Suriah.

Kampanye ini untuk melawan ISIS yang mendominasi kedua negara itu, setelah awalnya AS menarik diri pada 2011.

Penegasan itu juga mengungkapkan, senjata pemusnah massal hanya menjadi slogan yang masih digunakan oleh saingan dan sekutu, termasuk sebelum invasi Rusia ke Ukraina, yang diramalkan dengan benar oleh intelijen AS.

Avril Haines, direktur intelijen nasional AS saat ini, mengungkapkan, komunitas intelijen mengadopsi standar baru. “Kami mendapat pelajaran penting setelah penilaian kami yang cacat terhadap program senjata pemusnah massal aktif di Irak pada 2002,” kata Haines.

Sejak saat itu, intelijen memperluas penggunaan teknik analitik terstruktur, menetapkan standar analitik di seluruh komunitas, dan meningkatkan pengawasan perdagangan.

Hanya 18 persen orang dewasa AS mengatakan sangat percaya pada badan intelijen pemerintah, menurut jajak pendapat terbaru dari The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research. Lalu, 49 memiliki sedikit kepercayaan dan 31 persen hampir tak percaya.

Perkiraan intelijen AS yang diterbitkan Oktober 2002 menyatakan, Irak mempertimbangkan untuk membeli uranium dari Niger dan tabung aluminium untuk sentrifugal. Irak sedang membangun laboratorium senjata bergerak.

Perkiraan itu juga menyebut, Irak menggunakan drone untuk menyebarkan racun mematikan, dan memiliki persediaan senjata kimia hingga 500 ton. Beberapa pejabat AS menyatakan, pejabat Irak memiliki hubungan dengan pemimpin Alqaidah.

Klaim tersebut sebagian besar dibantah dalam beberapa bulan setelah invasi. Tidak ada timbunan senjata. Tinjauan selanjutnya menyalahkan klaim tersebut pada informasi yang ketinggalan zaman, asumsi yang salah.

“Kami telah hidup dengan hantu Irak selama dua dekade dan itu memengaruhi kredibilitas kami,” kata Crow. Menurut dia, sekarang ini kesempatan bagi AS mempelajari kejadian masa lalu dan melakukan dengan lebih baik di masa datang.

 

 

 

 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement