Kamis 11 May 2023 16:14 WIB

Selesaikan Konflik Myanmar, Jokowi: Indonesia Siap Berkomunikasi dengan Junta

Indonesia siap berbicara dengan siapapun, termasuk junta dan seluruh stakeholder.

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Gita Amanda
Presiden Jokowi dan para pemimpin negara ASEAN mengenakan baju tenun songke Manggarai di KTT ke-42 ASEAN, Labuan Bajo, Kamis (11/5).
Foto: Dok.Muchlis Jr/Biro Pers Sekreta
Presiden Jokowi dan para pemimpin negara ASEAN mengenakan baju tenun songke Manggarai di KTT ke-42 ASEAN, Labuan Bajo, Kamis (11/5).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, Indonesia siap berkomunikasi dengan semua pihak, termasuk dengan junta militer dan seluruh pemangku kepentingan di Myanmar. Jokowi mengatakan, upaya ini untuk kepentingan kemanusiaan di Myanmar.

“Indonesia siap berbicara dengan siapapun, termasuk dengan junta dan seluruh stakeholder di Myanmar untuk kepentingan kemanusiaan,” kata Jokowi saat konferensi pers di Labuan Bajo, Kamis (11/5/2023).

Baca Juga

Ia pun menegaskan, keterlibatan atau engagement yang dilakukan bukan berarti memberikan pengakuan terhadap junta militer yang menguasai Myanmar saat ini. Jokowi mengatakan, pencederaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan pun tidak bisa ditoleransi.

Dalam lima poin konsensus juga memandatkan ASEAN agar melibatkan semua pihak yang berkepentingan dalam penyelesaian konflik di Myanmar. “Yang penting untuk saya tegaskan bahwa engagement bukan recognition. Melakukan pendekatan bukan berarti memberikan pengakuan,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, inklusivitas harus dipegang kuat oleh ASEAN karena kredibilitas ASEAN sedang dipertaruhkan. Karena itu, dalam pertemuan di KTT ke-42 ini, Jokowi menekankan bahwa kesatuan ASEAN sangatlah penting sehingga pihak lain tak mudah memecah belah ASEAN.

“Tanpa kesatuan akan mudah bagi pihak lain untuk memecah ASEAN. Dan saya yakin tidak satupun negara ASEAN menginginkan hal tersebut,” kata dia.

Ia juga menegaskan bahwa pihak lain baik di dalam atau di luar ASEAN tidak boleh mengambil manfaat dari konflik di Myanmar. Kekerasan di Myanmar pun harus dihentikan dan masyarakat harus mendapat perlindungan.

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement