Senin 15 May 2023 18:36 WIB

Portugal Bersaing dengan AS dalam Perebutan Kepala Badan Migrasi PBB

Delapan dari 10 direktur jenderal IOM adalah orang Amerika Serikat.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Aksi dievakuasi imigran yang diselamatkan. ilustrasi
Foto: Reuters
Aksi dievakuasi imigran yang diselamatkan. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Setidaknya 175 negara anggota badan migrasi PBB (IOM) memberikan suara pada hari Senin (15/5/2023), untuk memilih pemimpinnya selama lima tahun ke depan. Pemilihan kali ini tidak biasa, karena calon kandidat yang akan memimpin lembaga ini yang juga petahana, pemimpin sebelumnya dan seorang perwakilan dari delegasi Amerika Serikat.

Direktur Jenderal Organisasi Internasional untuk Migrasi yang juga mencalonkan diri kembali, Antonio Vitorino dari Portugal sedang melihat kemungkinan persaingan yang sulit melawan wakilnya yang didukung pemerintahan Biden, Amy Pope.

Baca Juga

Ketika kedua kandidat meninggalkan ruang konferensi besar di Jenewa satu demi satu untuk membiarkan negara-negara anggota memberikan suara secara tertutup. Pope dan Vitorino tidak berbicara satu sama lain - tetapi dia menyatakan kepercayaannya kepada beberapa wartawan saat dia lewat.

“Akan menjadi hari yang menyenangkan!” renungnya, menepuk lengan seorang jurnalis dan menjawab ya," ketika ia ditanya apakah memiliki cukup suara untuk menang.

Misi diplomatik Portugal di Jenewa men-tweet bahwa Komunitas Negara Berbahasa Portugis, yang beranggotakan sembilan orang, mendukung Vitorino, dan Uni Eropa,-di mana Portugal menjadi anggotanya. Dia mengatakan bahwa dirinya kandidat yang mendapat dukungan dari blok negara yang beranggotakan 27 orang itu.

Pertarungan itu tidak biasa karena Pope, juga pejabat di lembaga itu, sebagai direktur jenderal IOM untuk manajemen dan reformasi. Ia ingin menggeser posisi bosnya dalam kontes antara sekutu, Amerika Serikat dan Portugal adalah sesama anggota NATO.

Delapan dari 10 direktur jenderal IOM sejak badan tersebut didirikan 72 tahun lalu adalah orang Amerika. Tetapi Vitorino mengambil alih pekerjaan itu pada tahun 2018 setelah negara-negara anggota IOM menolak seorang kandidat yang diajukan oleh pemerintahan Trump.

Hal itu membuat AS menarik diri keluar dari badan hak asasi manusia utama PBB itu. Sikap Trump yang menghindari globalisme dan mendukung kebijakan 'America First' yang membuat banyak orang tersinggung.

Pemilihan dilakukan saat para imigran bergerak tidak seperti sebelumnya, diusir dari rumah mereka oleh faktor-faktor termasuk konflik, tekanan ekonomi, dan dampak perubahan iklim yang semakin meningkat.

IOM memiliki hampir 19.000 staf di 171 negara yang menyediakan makanan, air, tempat berlindung, dan bantuan dokumen bagi para migran. Kondisi dunia saat ini bergulat dengan krisis migrasi massal di tempat-tempat yang beragam seperti perbatasan AS-Meksiko, Mediterania tengah, Bangladesh, Ukraina, dan Sudan.

Untuk menang di bawah aturan IOM, seorang kandidat perlu mengumpulkan suara dari dua pertiga negara yang memberikan suara dalam pemilu.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement