Ahad 21 May 2023 10:23 WIB

Bunga Daisy Lambang Mengenang Warga yang Hilang di Uruguay

Ribuan warga Uruguay turun ke jalan dalam March of Silence pada Sabtu.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolandha
Bunga daisy. Kota-kota Uruguay memuat lukisan bunga daisy, masing-masing dengan kelopak yang hilang, muncul di dinding dan di jendela dalam beberapa pekan terakhir.
Foto: Freepik
Bunga daisy. Kota-kota Uruguay memuat lukisan bunga daisy, masing-masing dengan kelopak yang hilang, muncul di dinding dan di jendela dalam beberapa pekan terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, MONTEVIDEO -- Kota-kota Uruguay memuat lukisan bunga daisy, masing-masing dengan kelopak yang hilang, muncul di dinding dan di jendela dalam beberapa pekan terakhir. Kehadiran gambar tersebut untuk mengenang orang-orang yang hilang selama kediktatoran militer yang dimulai 50 tahun yang lalu.

Ribuan orang di negara kecil Amerika Selatan itu akan turun ke jalan dalam "March of Silence" pada Sabtu (20/5/2023). Gerakan ini untuk mengingat orang-orang yang dihilangkan secara paksa oleh negara, baik di Uruguay maupun di negara tetangga Argentina, selama gelombang kekuasaan militer di negara tersebut.

Baca Juga

Kelompok Mothers and Family Members of Disappeared and Detained Uruguayans mengatakan, 197 warga negara dihilangkan secara paksa. Hanya enam mayat dari orang hilang di Uruguay telah ditemukan sejauh ini. Sedangkan ribuan orang lagi dipenjara dan disiksa.

Ada seruan untuk lebih banyak pertanggungjawaban yang dilakukan pemerintah. "Ini bukan hanya pawai, ini menjadi kenangan sebulan penuh," kata Ricardo Perciballe yang merupakan jaksa penuntut negara yang berusaha membawa tokoh-tokoh yang dituduh melakukan kejahatan di kediktatoran Uruguay 1973-1985 ke pengadilan.

Menurut Perciballe, Pandemi telah menghidupkan kembali ingatan kolektif dan keinginan akan kebenaran. Sebelumnya demonstrasi diam-diam terjadi setiap tahun pada 20 Mei sejak 1996.

Dalam peringatan itu pengunjuk rasa membawa foto orang hilang dan menuntut keadilan. Tahun ini yang menandai lima dekade sejak presiden saat itu Juan Maria Bordaberry membubarkan parlemen dan menangguhkan konstitusi diperkirakan akan menarik lebih banyak orang daripada biasanya.

 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement