Selasa 13 Jun 2023 13:03 WIB

Rusia Gunakan Senjata Tua Era Perang Dingin untuk Hadapi Serangan Balik Ukraina

Senjata-senjata tua Rusia itu masih dapat berfungsi dengan baik.

Rep: Lintar Satria/ Red: Esthi Maharani
Seorang tentara Ukraina mengintip dari tank Rusia yang ditangkap di garis depan di wilayah Donetsk, Ukraina, Selasa, 22 November 2022.
Foto: AP Photo/Libkos
Seorang tentara Ukraina mengintip dari tank Rusia yang ditangkap di garis depan di wilayah Donetsk, Ukraina, Selasa, 22 November 2022.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia menggunakan senjata-senjata era Perang Dingin seperti tank yang diproduksi pada tahun 1950-an untuk mengisi kerugian di awal perang di Ukraina. Menurut Pengamat militer Ukraina Oleh Zhdanov senjata-senjata tua Rusia itu masih dapat berfungsi dengan baik.  

"Tidak penting tank apa yang mereka miliki, mereka memiliki ribuan," kata Zhdanov, Senin (12/6/2023).

Baca Juga

Ia mencatat Rusia banyak menggunakan tank-tank itu sebagai senjata tak bergerak di garis pertahanan termasuk di wilayah Zaporizhzhia. Taktik tersebut terbukti efektif untuk bertahan.

Zhdanov mengakui Rusia berhasil mengenai gudang-gudang militer Ukraina dengan mengandalkan agen dan kolaborator Moskow. Tapi menurutnya kerugian itu masih dapat "ditoleransi." Ia juga mengatakan Rusia semakin banyak menggunakan drone dan senjata elektronik untuk merusak drone Ukraina.

Zhdanov mengatakan Rusia tidak lagi menggunakan grup taktik skala batalion seperti di awal perang. Kini, katanya, Rusia menggunakan unit-unit tempur yang lebih kecil.

Ia menambahkan sementara Angkatan Udara Rusia beroperasi dengan jumlah yang lebih kecil, mereka telah memodernisasi persediaan bom menjadi rudal yang terbukti efektif. Bom 500 kilogram dipasang modul GPS yang dapat menimbulkan kerusakan besar.

"Uni Soviet memproduksi bom-bom itu dalam jumlah yang sangat banyak," kata Zhdanov. Ia menambahkan Rusia menjatuhkan 50 bom setiap hari untuk "dampak psikologis besar."

Pada April lalu satu bom tidak sengaja terlepas di Kota Belgorod, Rusia dekat perbatasan dengan Ukraina. Ledakannya menciptakan kawah besar dan melukai satu orang.

Blogger militer Rusia memuji rudal ber-GPS tersebut dan kemampuannya mengenai target sejauh 70 kilometer. Di blognya salah seorang mantan pilot militer mengatakan Rusia sedang mengubah bom 1.500 kilogram sebagai rudal.

Senjata itu memberi kesempatan bagi Angkatan Udara Rusia menyerang pasukan Ukraina tanpa menimbulkan resiko pada pesawat mereka sendiri.

Lembaga think-tank yang fokus bidang pertahanan dan keamanan, The Royal United Service Institute (RUSI) mencatat bom-bom ber-GPS dan senjata rakitan Rusia dan taktik Rusia.

"Meski akurasinya terbatas, ukuran amunisi ini menimbulkan ancaman serius," kata RUSI dalam laporan terbarunya.

Lembaga itu menambahkan Rusia sedang memperbaiki senjata-senjata tersebut. Dalam laporannya RUSI menambahkan teknisi-teknisi Rusia terbukti handal dalam membangun benteng dan rintangan rumit di garis pertahanan termasuk membangun parit yang diperkuat dengan benton, bunker-bunker komando, kawat berduri, jeruji anti-tank atau "gigi naga" dan ladang ranjau yang rumit.

Di laporan tersebut RUSI mengatakan ranjau-ranjau canggih yang digunakan untuk menghalangi tank dan infrantri menimbulkan "tantangan taktis besar pada operasi serangan Ukraina."  

Rusia juga memperbaiki kamuflase panas tank-tanknya, menyebar infrantri yang lebih lincah ke berbagai posisi, termasuk mengintegrasikan drone dalam serangan untuk menghindari kerugian; seperti menyerang artileri Ukraina dengan loitering munition atau drone bunuh diri.

"(Tembakan responsi Rusia) menjadi tantangan besar bagi operasi serangan Ukraina," kata RUSI dalam laporannya.

RUSI mengatakan sistem senjata elektronik Rusia menghancurkan sekitar 10 ribu drone Ukraina per bulan. Sementara mereka juga menyadap dan memecahkan kode komunikasi taktis Ukraina.

Menurut RUSI, Rusia juga telah belajar menghalau roket berpandu GPS yang ditembakan dari peluncur rudal Barat seperti HIMARS yang pernah menimbulkan kerugian besar bagi Rusia. "Militer Rusia mampu berkembang dan memperbaiki pengerahan sistem utamanya," kata RUSI.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement