Selasa 18 Jul 2023 10:04 WIB

Sesi Pidato Presiden Israel di Kongres AS Menuai Banyak Penolakan

Awal bulan ini, pasukan Israel menyerang kamp pengungsi Jenin di wilayah Tepi Barat.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Israel Isaac Herzog akan berpidato di sesi gabungan Kongres AS pada Rabu (19/7/2023).
Foto: AP Photo/Nariman El-Mofty
Presiden Israel Isaac Herzog akan berpidato di sesi gabungan Kongres AS pada Rabu (19/7/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Israel Isaac Herzog akan tiba di Amerika Serikat (AS) dan berpidato di sesi gabungan Kongres pada Rabu (19/7/2023). Acara  Herzog itu pun mendapatkan tanggapan beragam, banyak yang menentang karena menyoroti isu di Palestina.

Herzog sering digambarkan sebagai negarawan non-partisan karena menjalani peran seremonial belaka. Berbeda dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang merupakan kepala cabang eksekutif dan dipilih berdasarkan kursi mayoritas pemilihan umum.

Baca Juga

Direktur legislatif untuk kebijakan Timur Tengah di kelompok advokasi Friends Committee on National Legislation Hassan El-Tayyab mengatakan, Netanyahu dan Herzog mewakili pemerintah Israel yang sama. “Kami membutuhkan pertanggungjawaban atas begitu banyak pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Palestina, yang terus meningkat,” katanya dikutip dari Alajazirah.

Berpidato di sidang gabungan Kongres adalah kesempatan langka yang hanya diberikan kepada sekutu terdekat negara itu. Herzog juga diperkirakan akan menerima sambutan hangat di Gedung Putih pada Selasa (18/7/2023), meskipun perjalanannya dilakukan di tengah meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina.

Para pendukung hak asasi mengatakan, kunjungan Herzog akan menjadi pendorong dukungan AS yang tidak perlu dipertanyakan lagi untuk Israel. Padahal saat ini banyak dari anggota parlemen, terutama Demokrat, meminta Presiden Joe Biden untuk menekan pemerintah Netanyahu agar mengakhiri pelanggaran terhadap warga Palestina.

“Anggota Kongres harus menggunakan perjalanan ini untuk mendorong perubahan dalam kebijakan seputar aneksasi, penahanan anak, pembongkaran rumah, kekerasan pemukim, perlakuan terhadap jurnalis, termasuk Shireen Abu Akleh dan daftarnya terus berlanjut," ujar El-Tayyab.

Beberapa anggota parlemen AS yang progresif, termasuk Ilhan Omar, Jamaal Bowman, dan Cori Bush, telah mengonfirmasi akan memboikot pidato Herzog di depan Kongres. Alexandria Ocasio-Cortez juga akan melewatkan acara tersebut.

Pekan lalu, Omar menguraikan keputusannya dalam serangkaian tweet. Dia pun mengingatkan kembali keputusan Israel melarang dia bersama dengan sesama anggota Kongres Muslim-Amerika Rashida Tlaib memasuki negara itu pada 2019.

"Tidak mungkin saya menghadiri pidato sesi bersama dari seorang Presiden yang negaranya telah melarang saya dan melarang [Tlaib] untuk melihat neneknya," kata Omar.

Anggota kongres mencatat bahwa kunjungan tersebut dilakukan di tengah munculnya tokoh sayap kanan di pemerintahan Israel. Mereka melihat meningkatnya pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia.

Awal bulan ini, pasukan Israel menyerang kamp pengungsi Jenin di wilayah pendudukan Tepi Barat, menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina. “AS dapat dan harus menggunakan alat diplomatiknya untuk terlibat dengan pemerintah Israel, tetapi memberikan kehormatan kepada pemerintah saat ini untuk menyampaikan pidato bersama di televisi mengirimkan sinyal yang benar-benar salah pada waktu yang salah,” ujar Omar.

Meskipun dituduh melakukan kejahatan apartheid oleh kelompok hak asasi manusia terkemuka, termasuk Amnesty International, Israel menerima setidaknya 3,8 miliar dolar AS bantuan dari AS setiap tahun. “Anggota Kongres yang progresif benar-benar tepat untuk melewatkan pidato Presiden Herzog,” kata direktur politik Suara Yahudi untuk Aksi Perdamaian Beth Miller.

“Herzog adalah presiden sebuah negara yang secara brutal menindas jutaan warga Palestina melalui pendudukan militer ilegal dan apartheid. Setiap anggota Kongres yang percaya pada hak asasi manusia tidak boleh menghadiri atau mendukung pidatonya," ujar kelompok advokasi yang mendukung hak-hak Palestina itu.

Miller menegaskan, melewatkan pidato Herzog bukan tentang politisi individu. Tindakan ini upaya mengirim pesan yang menolak kebijakan "rasis" Israel terhadap Palestina.

“Saat Israel mempercepat pembangunan pemukiman ilegal di tanah Palestina yang dicuri, dan mengintensifkan kekerasan terhadap warga Palestina, Herzog datang ke Kongres dengan tujuan menutupi pelanggaran hak asasi manusia ini dan memperdalam hubungan antara Israel dan AS,” kata Miller.

Pekan lalu, kelompok progresif Yahudi yang dipimpin pemuda IfNotNow meminta anggota parlemen AS untuk mengambil sikap terhadap hak-hak Palestina selama kunjungan Herzog. "Karena Israel secara terang-terangan melanggar hukum internasional dan kebijakan AS, sekarang bukan saatnya menggelar karpet merah untuk presidennya," kata direktur politik kelompok itu Eva Borgwardt dalam sebuah pernyataan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement