Ahad 30 Jul 2023 06:10 WIB

PBB: Seorang Bayi Meninggal Karena Panas Ekstrem di Kamp Pengungsi Suriah 

Suhu di kota Idlib di Suriah mencapai 30-46 derajat Celcius.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolandha
Kamp pengungsi di Idlib, Suriah. Seorang bayi berusia satu tahun meninggal di sebuah kamp pengungsian di Kota Idlib, barat laut Suriah, akibat cuaca panas ekstrem
Foto: EPA
Kamp pengungsi di Idlib, Suriah. Seorang bayi berusia satu tahun meninggal di sebuah kamp pengungsian di Kota Idlib, barat laut Suriah, akibat cuaca panas ekstrem

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Seorang bayi berusia satu tahun meninggal di sebuah kamp pengungsian di Kota Idlib, barat laut Suriah. Balita itu kesehatannya memburuk karena panas ekstrem. 

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric mengatakan, bayi itu dan keluarganya tinggal di sebuah tenda tua yang berusia tiga tahun di kamp pengungsi di Kota Idlib. Suhu di kota itu mencapai 30-46 derajat Celcius.

Baca Juga

"Mitra kami melaporkan bahwa setidaknya 165 tenda di kamp kekurangan insulator panas untuk melindungi orang dari kondisi cuaca ekstrem," kata Dujarric, dilaporkan Middle East Monitor, Sabtu (29/7/2023).

Dujarric menambahkan, sekitar 800.000 orang masih tinggal di tenda hingga hari ini. Seringkali tenda dalam kondisi penuh sesak karena melebihi kapasitas. PBB dan mitranya berencana untuk memindahkan orang-orang terlantar di Suriah barat laut dari tenda ke tempat penampungan yang layak.

"Kondisi kehidupan (pengungsi di Suriah) tetap sulit bagi 800.000 orang yang masih tinggal di tenda saat ini, seringkali dalam kondisi penuh sesak."

Pada musim panas terjadi kebakaran di  wilayah Suriah. Pada Juli, setidaknya 134 kebakaran telah dilaporkan di barat laut Suriah. Lebih dari 320 insiden kebakaran telah mempengaruhi lebih dari 720 tenda yang menampung orang-orang terlantar sejak awal tahun.

Sekitar 1,9 juta orang terlantar tinggal di sekitar 1.430 kamp atau lokasi pemukiman sendiri di barat laut Suriah. Mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

Seorang pengungski, Hamida Dandoush memercikkan air ke tendanya berharap dapat meredakan suhu tinggi untuk dirinya dan keluarganya. Wanita berusia 62 tahun dari Kota Maardabsah itu tinggal di kamp Sahara dekat perbatasan Suriah-Turki. Sekitar 80 keluarga di kamp itu mengalami kondisi kehidupan yang keras di tengah gelombang panas yang hebat yang melanda wilayah tersebut.

“Kami hidup seperti di dalam oven, berjuang untuk bernapas karena panas di dalam tenda. Jika bukan karena air yang kami siramkan di tenda, kami akan mati karena panas yang menyengat,” kata Dandoush, dilaporkan Aljazirah.

Dandoush tinggal di tenda bersama....

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement