Ahad 06 Aug 2023 09:31 WIB

Rusia-Ukraina Sama-Sama Ciptakan Hoaks dan Mitos Perang

Keduanya mengklaim kemenangan dan tetap diam tentang kekalahan

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Bangsa di mana pun yang berperang membengkokkan kebenaran untuk meningkatkan moral di garis depan
Foto:

Salah satu kasus disinformasi yang paling mencolok muncul di minggu kedua perang. Sebuah rumah sakit bersalin di kota Mariupol yang terkepung dibom dari udara.

Gambar-gambar yang diambil oleh seorang fotografer The Associated Press mengejutkan dunia, khususnya seorang perempuan hamil tua yang dibawa dengan tandu melewati reruntuhan. Serangan brutal itu terjadi di hadapan klaim Rusia bahwa itu hanya mengenai target militer dan menghindari fasilitas sipil.

Rusia dengan cepat meluncurkan kampanye multi-cabang dan kurang koheren untuk meredam kemarahan. Para diplomat, termasuk duta besar Rusia untuk PBB, mengecam pelaporan dan gambar yang dirilis AP sebagai palsu.

Seorang pasien yang diwawancarai setelah serangan itu dan perempuan di atas tandu adalah orang yang sama dan dia pernah menjadi aktor krisis. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahkan menuduh pejuang Ukraina berlindung di rumah sakit, menjadikannya target yang sah.

Pasien yang diwawancarai memperkeruh situasi dengan kemudian mengklaim bahwa tidak memberikan izin wartawan untuk mengutipnya. Dia mengatakan bahwa tidak mendengar suara pesawat terbang di atas rumah sakit sebelum ledakan, yang menunjukkan bahwa itu bisa saja dibom.

Pihak berwenang Rusia memanfaatkan pernyataan tersebut untuk mendukung klaimnya. Padahal wanita tersebut menegaskan bahwa serangan itu sendiri nyata.

Selain misinformasi taget serangan, kedua belah pihak mempermainkan yang lain dengan klaim rencana licik pihak lain. Kadang-kadang seseorang menuduh pihak lain sedang mempersiapkan serangan. Contoh saja ketika Ukraina mengklaim Rusia merencanakan serangan rudal ke sekutunya Belarusia untuk menyalahkan Ukraina dan menarik pasukan Belarusia ke dalam perang.

Rusia dan Ukraina sama-sama menimbulkan momok bencana nuklir. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dan Menteri Pertahanan Sergei Shoigu menarik perhatian dunia pada Oktober tahun lalu.  Mereka mengklaim bahwa Ukraina sedang mempersiapkan "bom kotor" atau bahan peledak konvensional yang menyebarkan bahan radioaktif.

Zelenskyy pada gilirannya telah berulang kali memperingatkan bahwa Rusia telah menanam bahan peledak untuk menimbulkan bencana di pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia. Padahal bukti yang menguatkan dari keduanya tidak ada.

sumber : AP

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement