Selasa 22 Aug 2023 16:51 WIB

Kim Jong Un Berang, Sebut Pejabat Tinggi Pemerintah Merusak Ekonomi Korut

Kim Jong-un mengkritik perdana menteri Kim Tok Hun.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Sebuah foto yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) pada 14 Agustus 2023 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sedang memeriksa daerah yang dilanda Topan Khanun.
Foto: EPA-EFE/KCNA
Sebuah foto yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) pada 14 Agustus 2023 menunjukkan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un sedang memeriksa daerah yang dilanda Topan Khanun.

REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG -- Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengecam para pejabat tinggi atas respon mereka yang "tidak bertanggung jawab" terhadap kerusakan akibat banjir. Ia mengatakan mereka telah "merusak" ekonomi nasional.

Kantor berita KCNA melaporkan Kim menginspeksi sebuah lahan di pantai barat pada hari Senin (21/8/2023) kemarin. Baru-baru ini air laut menghancurkan tanggul dengan sistem drainase yang tidak memadai, membanjiri lebih dari 560 hektar lahan, termasuk lebih dari 270 hektar sawah.

Baca Juga

Kim mengecam para pejabat yang mengabaikan tugas  mereka dengan "sangat tidak bertanggung jawab." Kim mengkritik perdana menteri Kim Tok Hun karena menginspeksi lokasi bencana satu atau dua kali "dengan sikap sebagai penonton".

"Ia mengatakan dalam beberapa tahun terakhir, disiplin dan ekonomi pemerintahan Kabinet Kim Tok Hun semakin rusak dan, akibatnya, para pemalas merusak semua pekerjaan ekonomi negara dengan sikap kerja yang tidak bertanggung jawab," kata KCNA dalam siaran berbahasa Inggris, Selasa (22/8/2023).

Kim menambahkan sikap tidak bertanggung jawab dan kurangnya disiplin dari para pejabat tersebut "terutama disebabkan oleh sikap kerja yang lemah dan sudut pandang yang salah dari perdana menteri kabinet."

Kunjungan pekan ini merupakan kunjungan terbaru dari serangkaian inspeksi yang dilakukan Kim ke lahan pertanian yang dilanda banjir. Saat meningkatnya kekhawatiran akan krisis pangan di negara tertutup tersebut semakin menguat.

Profesor studi Korea Utara di Universitas Kyungnam, Korea Selatan  Lim Eul-chul mengatakan kritik keras Kim dapat menjadi pertanda perombakan kabinet. Hal ini juga menunjukkan ekonomi tidak berkembang seperti yang direncanakan.

"Bagaimanapun, Kim tampaknya sangat marah karena ekonomi nasional tidak berkembang seperti yang dia inginkan," kata Lim.

Korea Utara telah mengalami kekurangan pangan yang serius dalam beberapa dekade terakhir, termasuk kelaparan pada tahun 1990-an, yang sering kali disebabkan oleh bencana alam. Para ahli internasional memperingatkan penutupan perbatasan selama pandemi Covid-19 memperburuk keadaan. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement