Rabu 13 Sep 2023 07:04 WIB

Pemakaman Kota Orang Mati Tergerus Pembangunan Jalan di Kairo

Pemakaman yang dibangun pada 1924 itu terancam dibongkar.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
 Suasana kota mati atau bangunan kuburan yang terletak di Kota Kairo, Mesir, Selasa (9/9).  (Republika/Agung Supriyanto)
Suasana kota mati atau bangunan kuburan yang terletak di Kota Kairo, Mesir, Selasa (9/9). (Republika/Agung Supriyanto)

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Kursi rotan dan payung masih berdiri di halaman mausoleum keluarga Hussein Omar, tempat neneknya datang setiap pagi selama 19 tahun setelah putrinya meninggal. Di dekat makamnya, dia akan duduk dan berdoa di bawah pohon kurma dan di antara tanaman berbunga, menikmati kedamaian selama beberapa jam di Kota Orang Mati yang bersejarah di Kairo.

Kini makam yang dibangun pada 1924 dengan gaya neo-Islam dan menampung makam sejumlah tokoh terkemuka Mesir dari satu abad lalu itu terancam dibongkar. Pihak berwenang telah merobohkan ratusan makam dan mausoleum saat melaksanakan rencana membangun jaringan jalan raya multijalur melalui Kota Mati, sebuah pemakaman luas yang telah digunakan selama lebih dari satu milenium.

Baca Juga

Para pelestari lingkungan mengatakan, pembangunan tersebut menghancurkan bagian unik dari warisan Mesir. Area itu merupakan tempat para tokoh Islam terkemuka, politisi terkemuka Mesir, seniman dan cendekiawan serta orang-orang tercinta dari banyak warga Mesir dikuburkan.

“Ruang ini selalu terasa seperti ruang yang sangat sakral. Kami selalu berpikir bahwa apapun yang terjadi di seluruh Kairo, Kota Mati akan aman,” kata Omar yang merupakan sejarawan yang menulis sejarah 500 tahun Kairo seperti yang diceritakan melalui pekuburan tersebut.

“Seperti yang kita lihat sekarang, bukan itu masalahnya,” ujarnya.

Pekerjaan ini merupakan bagian dari kampanye pembangunan besar-besaran yang dilakukan oleh Presiden Abdel Fattah el-Sissi yang membentuk kembali kota berpenduduk sekitar 20 juta orang. Pemerintahannya telah membangun jalan raya dan jalan layang besar-besaran.

Dalam pelaksanaan proyek ini harus merobohkan beberapa lingkungan lama yang dianggap kumuh dan membangun proyek perumahan baru. Hal ini telah mendorong pertumbuhan kompleks pinggiran kota yang terjaga keamanannya di luar kota sambil membangun ibu kota baru yang besar di gurun pasir.

Banyak pihak yang mendukung perbaikan jalan untuk mengatasi kemacetan di kota yang padat penduduk. Namun pembangunan tersebut juga menimbulkan keluhan berupa hilangnya ruang hijau dan pepohonan.

Penghancuran kuburan tersebut juga memicu protes keras yang tidak biasa terjadi di negara dengan perbedaan pendapat telah dipadamkan selama bertahun-tahun di bawah pemerintahan el-Sissi. Lusinan partai, aktivis, tokoh masyarakat dan organisasi non-pemerintah menandatangani petisi pada Agustus yang mengecam penghancuran tersebut.

Sebanyak lima anggota komite ahli yang dibentuk oleh pemerintah untuk mempelajari kuburan tersebut mengundurkan diri sebagai bentuk protes. Mereka mengatakan, pihak berwenang mengabaikan rekomendasinya agar pembongkaran dihentikan dan dicarikan rute alternatif.

"Proyek pemerintah menghancurkan struktur unik, arsitektural, dan bersejarah,” kata pejabat di departemen pemerintah yang membuat daftar bangunan-bangunan khas Ayman Wanas dalam surat pengunduran dirinya yang diposting daring.

“Ini adalah pemborosan warisan bersejarah dan berharga Mesir yang tidak tergantikan," ujarnya.

Sebagai tanggapan, pihak berwenang pekan lalu menghentikan sementara pembongkaran makam di bagian utama pemakaman tersebut. Pejabat kota yang mengawasi wilayah timur Kairo mengatakan, tidak ada penjelasan yang diberikan kepada pemerintah kota, tetapi diyakini pemerintah ingin mengkaji alternatif lain atau ingin membungkam kritik menjelang pertemuan badan kebudayaan PBB, UNESCO, yang dimulai pada 17 September di Riyadh, Arab Saudi.

Agen keamanan mengatakan kepada penjaga makam untuk tidak membiarkan siapa pun memasuki atau memotret lokasi tersebut. Kawasan tersebut ditetapkan oleh UNESCO sebagai zona warisan dunia. Namun banyak aktivis pelestarian yang mengecam keras lembaga tersebut karena tetap diam atas kehancuran tersebut.

UNESCO mengatakan, pihaknya telah menyatakan keprihatinannya kepada pemerintah Mesir dan meminta informasi lebih lanjut mengenai pekerjaan tersebut. Tidak ada pengumuman resmi mengenai penghentian sementara dan tidak ada kabar bahwa rencana jalan raya telah diubah.

Kota Orang Mati luasnya hampir lima kilometer persegi telah menjadi tempat unik di Kairo selama berabad-abad. Awalnya merupakan dataran gurun di luar kota, tempat ini pertama kali digunakan segera setelah penaklukan Muslim di Mesir pada 700-an.

Para penggiat pelestarian khawatir hal ini akan berarti akhir dari Kota Orang Mati. Terletak di antara jalan raya, bagian-bagian yang tersisa akan rentan terhadap kehancuran lebih lanjut.

Pemerintah telah lama berargumen bahwa kuburan tersebut tidak ada dalam daftar monumen bersejarah Islam dan Kristen resmi yang dilindungi. Padahal daftar tersebut hampir tidak diperbarui selama beberapa dekade.

Dua menara berusia 700 tahun dalam daftar yang berada di jalur perbaikan jalan sedang dibongkar dan dipindahkan ke lokasi lain. Jalan raya yang direncanakan terjalin dalam jarak meter dari beberapa monumen terdaftar lainnya.

Perdana Menteri Mesir Moustafa Madbouly mengatakan pada Juni, bahwa situs pemakaman alternatif disediakan bagi keluarga yang memindahkan jenazah mereka sebelum pembangunan. Dia mengatakan, penanda makam tokoh-tokoh bersejarah akan dikumpulkan di “Pemakaman Para Dewa.”

Mostafa el-Sadek, seorang profesor universitas yang memimpin inisiatif sukarelawan untuk mendokumentasikan kuburan dan mausoleum kuno, merasa frustrasi dengan desakan pemerintah untuk menghancurkan makam tersebut.

“Pembongkaran harus dihentikan. Daerah ini memiliki lapisan sejarah. Permasalahan apa pun, termasuk air tanah, bisa teratasi. Ini masalah kemauan," ujar el-Sadek.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement