Kamis 14 Sep 2023 14:56 WIB

Gambar Satelit Tunjukkan Skala Kehancuran yang Besar Akibat Banjir di Libya

Libya mengalami kehancuran besar-besaran akibat banjir

Rep: Amri Amrullah / Red: Esthi Maharani
Libya mengalami kehancuran besar-besaran akibat banjir
Foto: AP Photo/Yousef Murad
Libya mengalami kehancuran besar-besaran akibat banjir

REPUBLIKA.CO.ID, TRIPOLI --- Libya mengalami kehancuran besar-besaran minggu ini, ketika seluruh lingkungan tersapu atau terendam banjir yang dikhawatirkan telah menewaskan ribuan orang di bagian timur negara itu. Citra satelit dari sebelum dan sesudah banjir menggambarkan bencana tersebut, sebagaimana dilansir NBC, Rabu (13/9/2023). 

Puluhan ribu orang telah mengungsi dan ribuan lainnya hilang di kota pelabuhan Mediterania, Derna. Apa yang dulunya merupakan lapangan bermain, lahan pertanian, sekolah, jalan-jalan di pinggiran kota, dan kuburan kini hancur atau tertutup lumpur berwarna cokelat.

Baca Juga

Derna, sebuah kota berpenduduk sekitar 100.000 orang di pantai utara Libya, menghadapi kehancuran terburuk ketika dua bendungan runtuh minggu ini akibat curah hujan yang sangat tinggi yang disebabkan oleh badai Daniel, di Mediterania.

Hal ini menyebabkan Sungai Wadi Derna membengkak hingga beberapa kali lipat dari tingkat normalnya dan menyebabkan kota tersebut menghadapi gelombang setinggi 23 kaki.

Derna adalah ibu kota distrik Derna yang lebih luas dan dikenal dengan distrik medina yang bersejarah, dengan beberapa masjid terkenal, dan sinagoge. Seorang pejabat setempat memperkirakan bahwa seperempat dari seluruh kota kini telah hilang.

Sebuah operasi bantuan besar-besaran sedang berlangsung, dengan Presiden Joe Biden di antara para pemimpin dunia yang telah menjanjikan dukungan. Namun, proses yang rumit itu menjadi semakin sulit karena adanya konflik dan perpecahan internal.

Bencana alam ini terjadi setelah bertahun-tahun kekacauan politik dan militer di Libya sejak kejatuhan Moammar Kadhafi pada tahun 2011. Derna direbut oleh pejuang kelompok militan ISIS pada tahun 2014 sebelum milisi Islamis saingannya, Dewan Syura Mujahidin di Derna, mengambil alih kendali pada tahun 2015. 

Setelah pengepungan dan pertempuran yang panjang, Khalifa Hifter dan Tentara Nasional Libya menguasai Derna pada tahun 2018, menumpas apa yang digambarkan sebagai kantung perlawanan terakhir terhadap pemerintahannya di bagian timur negara itu.

Runtuhnya bendungan di Wadi Derna telah ditandai sebagai potensi risiko oleh para akademisi tahun lalu. Sebuah studi dari Sebha University Journal of Pure and Applied Sciences memperingatkan bahwa banjir bandang bisa menjadi bencana bagi daerah tersebut.

Laporan tersebut menyerukan tindakan "segera" dari pihak berwenang, menurut Kantor Berita Libya, termasuk pemeliharaan bendungan secara berkala. Para peneliti secara akurat memprediksi bahwa rumah-rumah dapat rusak atau hancur jika terjadi banjir.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement