Jumat 22 Sep 2023 18:39 WIB

Indonesia Serukan Reformasi Sistem Multilateral di PBB

Seruan ini disampaikan dalam pertemuan persiapan Summit of the Future.

Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi berbicara pada Summit of the Future, Kamis, 21 September 2023 di markas besar PBB.
Foto: AP Photo/Mary Altaffer
Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi berbicara pada Summit of the Future, Kamis, 21 September 2023 di markas besar PBB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyerukan reformasi sistem multilateral, dalam pertemuan persiapan Summit of the Future yang diadakan di sela-sela Sidang ke-78 Majelis Umum PBB di New York, AS, pada Kamis (21/9/2023).

“Sesuai mandat Sidang Majelis Umum PBB tahun lalu, Summit of the Future yang akan diselenggarakan pada September tahun depan bertujuan mempercepat kolaborasi global dalam menghadapi tantangan dan mewujudkan dunia yang lebih baik bagi masa depan,” kata Retno ketika menyampaikan keterangan pers secara daring melalui YouTube Kementerian Luar Negeri RI.

Baca Juga

Retno menyatakan diskusi dalam pertemuan tersebut harus mengarah kepada terciptanya dunia yang lebih damai bagi semua, dengan memperkuat infrastruktur perdamaian, yakni kepatuhan terhadap Piagam PBB dan hukum internasional, komitmen terhadap penyelesaian konflik secara damai, kerja sama multilateral yang kuat, kerja sama kawasan yang inklusif, serta upaya menjaga perdamaian melalui penguatan Pasukan Penjaga Perdamaian PBB.

Retno juga menyerukan reformasi Dewan Keamanan PBB harus lebih transparan, demokratis, dan efektif. Dia mengajak negara-negara di seluruh dunia untuk memastikan tercapainya kesejahteraan bagi semua.

Untuk itu, kata dia, diperlukan sistem perdagangan multilateral yang terbuka, adil, dan tidak diskriminatif, menghormati hak membangun dari negara-negara berkembang, mendengar suara dan kepentingan negara-negara berkembang, dan inklusif dengan sistem keuangan global.

Retno menegaskan bahwa sistem perdagangan multilateral harus mengedepankan ekonomi hijau dan berkelanjutan dengan peran besar teknologi dan inovasi. Sistem perdagangan multilateral itu juga harus bisa menciptakan ekonomi global yang tangguh, antara lain melalui penguatan arsitektur kesehatan global, ketahanan pangan dan energi, stabilitas finansial, dan ekonomi digital.

Pada akhir pernyataannya, Retno menegaskan bahwa Pact of the Future yang diharapkan bisa dihasilkan dari pertemuan puncak tahun depan, dapat memastikan terciptanya perdamaian dan kesejahteraan bagi semua, dan harus memastikan arsitektur multilateral yang lebih baik.

"Upaya bersama ini harus dilandaskan pada prinsip kolaborasi, solidaritas, dan win-win solution," kata dia.

Summit of the Future adalah konferensi tingkat tinggi yang akan diselenggarakan pada 2024 dengan tujuan memperkuat kerja sama multilateral dan mendorong tercapainya konsensus global guna mengatasi berbagai tantangan saat ini dan masa depan.

Pertemuan tingkat menteri Persiapan Summit of the Future dihadiri oleh para menteri dari negara-negara anggota PBB.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement