Jumat 06 Oct 2023 20:20 WIB

Tembakan Artileri Berat Tewaskan 11 Orang di Sudan

Sudan telah diguncang kekerasan sejak pertengahan April 2023.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Asap mengepul di Khartoum, Sudan, pada 8 Juni 2023, saat pertempuran antara tentara Sudan dan pasukan paramiliter terus berlanjut.
Foto: AP Photo/ File
Asap mengepul di Khartoum, Sudan, pada 8 Juni 2023, saat pertempuran antara tentara Sudan dan pasukan paramiliter terus berlanjut.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Tembakan artileri berat menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai 90 lainnya di Sudan. Kelompok bantuan Doctors Without Borders, yang dikenal dengan inisial Perancis MSF mengatakan, serangan itu terjadi di lingkungan Karari di Kota Omdurman pada Kamis (5/10/2023).

"Anak-anak termasuk di antara korban tewas," kata pernyataan MSF.

Baca Juga

Sudan telah diguncang kekerasan sejak pertengahan April, ketika ketegangan antara militer negara tersebut, yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah Burhan, dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat yang dipimpin  Jenderal Mohamed Hamden Dagalo, pecah menjadi pertempuran terbuka.

Pertempuran telah menyebar ke beberapa wilayah di negara itu, hingga menjadikan Ibu Kota, Khartoum, dan Kota  Omdurman menjadi medan perang. Konflik tersebut juga memicu kekerasan etnis di wilayah Darfur, barat Sudan.

MSF mengatakan, mereka yang terluka dalam serangan pada Kamis dirawat di rumah sakit Al Nao di Omdurman. Rumah sakit ini menjadi salah satu dari beberapa fasilitas medis tempat kelompok MSF beroperasi. Militer maupun Pasukan Dukungan Cepat belum menanggapi serangan tersebut.

“Pada September, tim kami telah merespons tujuh insiden korban massal di rumah sakit yang kami dukung.  Penderitaan akibat pertempuran brutal ini terhadap penduduk sungguh tak tertahankan,” kata pernyataan MSF di platform media sosial X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.

Pertempuran tersebut telah memaksa 5,5 juta orang Sudan meninggalkan rumah mereka untuk mencari keselamatan dan perlindungan. Menurut angka terbaru PBB, 4,3 juta orang mengungsi di Sudan dan 1,2 juta orang menyeberang ke negara-negara tetangga.

Dalam konferensi pers pada Kamis, koordinator kemanusiaan PBB di Sudan, Clementine Nkweta-Salami mengatakan, 18 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Sejauh ini badan-badan bantuan PBB baru menjangkau sekitar 3,6 juta orang di negara tersebut.

“Penduduk Sudan kini berada di ujung tanduk,” kata Nkweta-Salami.

Nkweta-Salami menggambarkan situasi ini sebagai krisis pengungsian yang paling cepat berkembang di dunia.  Konflik tersebut telah menewaskan sedikitnya 5.000 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya.  Aktivis dan kelompok dokter di negara tersebut mengatakan angka kematian sebenarnya jauh lebih tinggi. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement