Selasa 10 Oct 2023 14:04 WIB

Tokoh Senior Hamas Sebut Iran dan Hizbullah tak Terlibat dalam Serangan ke Israel

Iran dan kelompok Hizbullah Lebanon telah membantu Hamas di masa lalu.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nidia Zuraya
Tokoh senior Hamas menegaskan bahwa Iran dan Hizbullah tidak terlibat dalam rencana penyerangan ke Israel.
Foto: AP
Tokoh senior Hamas menegaskan bahwa Iran dan Hizbullah tidak terlibat dalam rencana penyerangan ke Israel.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Seorang pejabat senior Hamas pada Senin (9/10/2023) mengatakan hanya sejumlah kecil komandan tertinggi di dalam Gaza yang tahu tentang serangan luas yang diluncurkan ke Israel. Tetapi, ia mengatakan para sekutu Hamas, seperti Iran dan Hizbullah akan bergabung dalam pertempuran jika Gaza mengalami perang pemusnahan.

Ali Barakeh, seorang anggota kepemimpinan Hamas di pengasingan, berbicara kepada The Associated Press di kantornya di Beirut ketika Israel membombardir Gaza dan bersumpah akan memblokade total wilayah yang dikuasai Hamas itu.

Baca Juga

Serangan mendadak pada Sabtu lalu itu membuat militer dan intelijen Israel yang dibanggakan lengah. Ketika ratusan pria bersenjata pejuang Hamas merangsek masuk melalui lubang-lubang yang diledakkan di pagar perbatasan. Kemudian merangsek masuk ke beberapa kota, menewaskan ratusan tentara dan menangkap warga sipil, serta sejumlah orang lainnya.

Barakeh mengatakan bahwa serangan tersebut direncanakan oleh sekitar setengah lusin komandan tertinggi Hamas di Gaza dan bahwa bahkan sekutu terdekat kelompok tersebut tidak diberi tahu sebelumnya mengenai waktunya. Dia membantah laporan bahwa pejabat keamanan Iran membantu merencanakan serangan tersebut atau memberikan lampu hijau dalam sebuah pertemuan pekan lalu di Beirut.

"Hanya segelintir komandan Hamas yang tahu tentang jam nol," kata Barakeh, seraya menambahkan bahwa tidak ada seorang pun dari komando pusat atau biro politik Hamas yang berada di ibu kota Lebanon pekan lalu.

Dia mengakui bahwa Iran dan kelompok Hizbullah Lebanon telah membantu Hamas pada masa lalu, tetapi mengatakan bahwa sejak perang Gaza 2014 Hamas telah memproduksi roket sendiri dan melatih para pejuangnya sendiri.

Ketika ditanya apakah AS telah melihat bukti keterlibatan Iran, juru bicara Dewan Keamanan Nasional John Kirby di Gedung Putih mengatakan bahwa "ada tingkat keterlibatan" dari Iran. Karena dukungannya selama bertahun-tahun kepada Hamas. 

Namun, AS belum "melihat bukti yang kuat dan nyata bahwa Iran secara langsung terlibat dalam berpartisipasi atau menyediakan sumber daya, merencanakan serangkaian serangan kompleks yang dilakukan Hamas pada akhir pekan lalu."

Barakeh juga membantah spekulasi bahwa serangan tersebut, yang telah direncanakan selama lebih dari satu tahun, ditujukan untuk menggagalkan upaya AS untuk meyakinkan Arab Saudi agar menormalisasi hubungan dengan Israel.

Sebaliknya, ia mengatakan, hal itu didorong oleh serangkaian tindakan yang diambil oleh pemerintah sayap kanan Israel selama setahun terakhir. Termasuk kunjungan provokatif ke situs suci Yerusalem yang menjadi titik rawan dan meningkatnya tekanan terhadap para tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel. 

Barakeh juga mengatakan bahwa Hamas yakin Israel memiliki rencana untuk membunuh para pemimpinnya. Ia mengatakan bahwa Hamas pun terkejut dengan luasnya operasi tersebut, yang dijuluki "Operation Al-Aqsha Storm," dan mengatakan bahwa Hamas telah memperkirakan bahwa Israel akan mencegah atau membatasi serangan tersebut.

"Kami terkejut dengan kehancuran besar ini," kata Barakeh. "Kami berencana untuk mendapatkan beberapa keuntungan dan mengambil tawanan untuk ditukar. Tentara Israel hanya menang di atas kertas."

Klaimnya bahwa Hamas hanya merencanakan operasi kecil dibantah oleh fakta bahwa sekitar 1.000 pejuang ikut ambil bagian dalam serbuan itu, menyerang lewat darat, laut, dan bahkan paralayang bermotor.

Israel telah menyatakan perang habis-habisan dan bersumpah untuk menghukum Hamas tidak seperti sebelumnya. Militer Israel mengatakan bahwa mereka telah membunuh ratusan militan dan mengebom banyak target Hamas.

Sementara Barakeh mengatakan Hamas sejauh ini hanya menggunakan sejumlah kecil pasukannya sendiri. Dia mengatakan hampir 2.000 pejuang Hamas telah mengambil bagian dalam pertempuran terakhir, dari 40.000 tentara di Gaza saja. Hamas mungkin juga dapat mengandalkan sekutunya jika menghadapi kemunduran besar. 

 

Barakeh mengatakan Hamas siap untuk berperang panjang dengan Israel, dengan mengatakan bahwa mereka memiliki gudang roket yang akan bertahan lama.

"Kami telah mempersiapkan diri dengan baik untuk perang ini dan untuk menghadapi semua skenario, bahkan skenario perang yang panjang," tambahnya. "Kami akan menghentikan kehidupan di entitas Zionis jika agresi tidak berhenti di Gaza."

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement