Jumat 13 Oct 2023 17:27 WIB

Presiden Mesir: Warga Gaza Harus Tetap Tinggal di Tanahnya

Perbatasan Rafah antara Mesir dan Gaza adalah satu-satunya jalan masuk dan keluar.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Presiden Mesir Abdel Fatah Al Sisi.
Foto: Welt.de
Presiden Mesir Abdel Fatah Al Sisi.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi mengatakan, warga Gaza harus tetap berada di tanah mereka. Pernyataan ini muncul usai seruan agar Kairo mengizinkan perjalanan yang aman bagi warga sipil yang terjebak di Gaza semakin kencang.

"Warga Gaza harus tetap tabah dan tetap berada di tanah mereka," ujar al-Sisi  dalam pidatonya di sebuah upacara militer dikutip dari Al Arabiyah.

Baca Juga

Daerah kantong kecil di pesisir pantai yang dihuni 2,4 juta orang dan sudah diblokade sejak 2007. Wilayah itu kini dikepung oleh Israel yang telah memutus pasokan air, makanan, dan listrik. Serangan udara dan artileri Israel yang tiada henti selama enam hari telah menghancurkan seluruh distrik.

Perbatasan Rafah antara Mesir dan Gaza adalah satu-satunya jalan masuk dan keluar dari wilayah pesisir yang tidak dikendalikan oleh Israel. Namun, negara itu masih enggan membukanya untuk lalu lintas bagi warga Gaza.

Dalam beberapa hari terakhir, media yang terkait dengan pemerintah telah mengutip peringatan sumber-sumber keamanan tingkat tinggi terhadap eksodus massal warga Palestina. Kairo lebih memilih mendorong solusi diplomatik dan meminta kedua belah pihak menahan diri.

Al-Sisi menegaskan keamanan nasional negaranya adalah tanggung jawab utamanya. "Sembilan juta tamu, begitu saya menyebutnya, dari banyak negara yang datang ke Mesir demi keamanan dan keselamatan," ujarnya merujuk pada warga negara asing yang telah ditampung di negara itu.

Namun kasus warga Gaza berbeda. Presiden Mesir itu menyatakan, perpindahan penduduk Gaza berarti penghapusan perjuangan Palestina.

Mesir hanya berkomitmen dalam memastikan pengiriman bantuan, baik medis maupun kemanusiaan. Al-Sisi menegaskan, posisi tegas Mesir  untuk memastikan hak-hak sah warga Palestina.

Mesir, yang secara historis merupakan perantara utama antara Hamas dan Israel telah meminta para donor untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan menuju Gaza ke bandara El Aris. Kairo tetap berupaya untuk memungkinkan pengiriman bantuan. 

“Sejak awal, kami menekankan untuk terus membuka penyeberangan Rafah untuk memberikan bantuan kemanusiaan, dan penyeberangan tersebut akan tetap terbuka sampai kami memenuhi kebutuhan kemanusiaan yang mendesak di Jalur Gaza,” kata Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement