Sabtu 14 Oct 2023 20:32 WIB

Taliban akan Hadiri Pertemuan Belt and Road Forum di Cina

Koridor Ekonomi Cina-Pakistan diperluas hingga melintasi perbatasan ke Afghanistan.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Peta one belt one road, obor yang merupakan jalur sutra baru dinisiasi Cina
Foto: linkedin
Peta one belt one road, obor yang merupakan jalur sutra baru dinisiasi Cina

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Taliban akan menghadiri Belt and Road Forum yang diadakan oleh Cina pada pekan depan. Keterlibatan itu menggarisbawahi berkembangnya hubungan resmi Beijing dengan pemerintah Kabul, meskipun tidak ada pengakuan formal dari pemerintah mana pun.

Juru bicara kementerian Akhundzada Abdul Salam Jawad, pejabat menteri perdagangan dan industri Taliban Haji Nooruddin Aziz, akan melakukan perjalanan ke Beijing dalam beberapa hari mendatang. “Dia akan hadir dan akan mengundang investor besar ke Afghanistan," katanya.

Baca Juga

Azizi akan melanjutkan diskusi di Beijing mengenai rencana pembangunan jalan melalui koridor Wakhan, jalur tipis pegunungan di Afghanistan utara, untuk menyediakan akses langsung ke Cina. Upaya ini sejalan dengan pertemuan para pejabat dari Cina, Taliban, dan negara tetangga Pakistan pada Mei.

Ketiga negara itu sepakat ingin Belt and Road mencakup Afghanistan dan Koridor Ekonomi Cina-Pakistan diperluas hingga melintasi perbatasan ke Afghanistan.

Para pejabat dan menteri Taliban kadang-kadang melakukan perjalanan ke pertemuan-pertemuan regional, yang sebagian besar berfokus pada Afghanistan. Namun kegiatan kali ini adalah salah satu pertemuan puncak multilateral tingkat tinggi.

Forum di Beijing pada 17-18 Oktober 2023 ini menandai peringatan 10 tahun inisiatif infrastruktur dan energi global yang ambisius dari Presiden Cina Xi Jinping. Proyek Belt and Road Initiative disebut-sebut sebagai penciptaan kembali Jalur Sutra kuno untuk meningkatkan perdagangan global.

Afghanistan bisa menawarkan kekayaan sumber daya mineral yang sangat didambakan. Seorang menteri pertambangan memperkirakan pada 2010, bahwa Afghanistan memiliki simpanan yang belum dimanfaatkan, mulai dari tembaga hingga emas dan litium. Sumber tersebut diperkirakan bernilai antara satu triliun hingga tiga triliun dolar AS.

Cina telah melakukan pembicaraan dengan Taliban mengenai rencana mengenai kemungkinan tambang tembaga besar di Afghanistan timur. Upaya itu sudah dimulai pada masa pemerintahan sebelumnya yang didukung asing.

Taliban belum diakui secara resmi oleh pemerintah mana pun sejak mengambil alih Afghanistan dua tahun lalu ketika Amerika Serikat dan pasukan asing lainnya mundur. Serangkaian pembatasan terhadap akses perempuan terhadap kehidupan publik dan pelarangan banyak staf perempuan LSM untuk bekerja telah meningkatkan hambatan terhadap pengakuan, terutama oleh negara-negara Barat.

Tapi Cina telah meningkatkan keterlibatannya dengan Taliban. Sikap ini membuat Beijing menjadi negara pertama yang menunjuk duta besar untuk Kabul sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, dan berinvestasi dalam proyek pertambangan.

Duta Besar Beijing menyerahkan surat kepercayaannya kepada pejabat perdana menteri Taliban bulan lalu. Negara-negara lain tetap mempertahankan duta besar sebelumnya atau menunjuk kepala misi dalam kapasitas tugas yang tidak melibatkan penyerahan surat kepercayaan secara resmi kepada pemerintah Afghanistan saat ini.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement