Senin 23 Oct 2023 12:15 WIB

Israel Bentuk Ratusan Regu Keamanan Sukarela untuk Atasi Kerusuhan Yahudi-Arab

Pasukan sukarela ini dibekali dengan persenjataan oleh Kepolisian Israel.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Polisi Israel mengawal pengunjung Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsa.
Foto: AP Photo/Mahmoud Illean
Polisi Israel mengawal pengunjung Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsa.

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Israel telah membentuk ratusan regu keamanan sukarela dalam dua pekan sejak perang di Gaza meletus. Israel mempersenjatai mereka jika terjadi kerusuhan Yahudi-Arab.

Kepala polisi Israel Inspektur Jenderal Kobi Shabtai mengatakan, pemantauan seperti itu memungkinkan petugas untuk mencegah terjadinya kekerasan. “Ada perilaku yang patut dicontoh di sini dan hampir tidak ada insiden, semua kejadian penting tersebut ditangani di tingkat lokal dan dengan resonansi media yang lebih sedikit. Ada dialog dengan para pemimpin (Arab) dan secara paralel kami siap menghadapi skenario apa pun," ujar Shabtai.

Baca Juga

Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir memperkirakan perang ini akan terulang kembali seperti kerusuhan pada 2021. Ben-Gvir telah memerintahkan pelonggaran peraturan untuk mengeluarkan izin kepemilikan senjata kepada warga negara. Persyaratan ini umumnya mengharuskan pelamar pernah bertugas di militer Israel.

Langkah tambahan yang diambil adalah pembentukan regu keamanan sukarela untuk berpatroli di jalan-jalan dan mendukung polisi. Shabtai, mengatakan 527 regu tersebut telah dibentuk sejak 7 Oktober.

Wakil Direktur Kementerian Keamanan Isrsel, Eliezer Rosenbaum, mengatakan kepada anggota parlemen bahwa 20.000 senjata api telah dipesan untuk didistribusikan kepada pasukan tersebut. Sementara 20.000 senjata lainnya akan menyusul. Dia mengatakan, para relawan juga akan diberikan jaket antipeluru dan helm.

Rosenbaum tidak memerinci jenis senjata yang digunakan. Ben-Gvir telah mengunggah video di media sosial yang menunjukkan dirinya membagikan senapan serbu M-16 atau M-4.

Naella Gelkopf-Belais, seorang aktivis sosial dari kota Haifa yang merupakan daerah campuran Yahudi-Arab mengatakan, polisi harus bekerja sama dengan otoritas sipil dan mewaspadai terbentuknya milisi swasta. “Kami di kota ini berada dalam situasi yang mudah tersulut," ujar Gelkopf-Belais.

Shabtai mengatakan, pasukan keamanan akan berada di bawah polisi. "Bagus jika ada banyak pasukan dan pasukan keamanan, tapi kehati-hatian harus dilakukan dalam hal ini. Apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang harus dipahami, dan harus diperhatikan agar tidak ada yang terlalu ringan dalam mengambil tindakan.”

Perang terakhir di Gaza pada 2021 kerap menimbulkan protes keras pro-Palestina di antara warga Arab yang merupakan 21 persen dari populasi Israel. Perang yang terjadi saat ini di Gaza dan meningkatnya permusuhan di perbatasan Lebanon dan wilayah pendudukan Tepi Barat, telah menimbulkan kekhawatiran bagi hubungan etnis internal Israel yang sudah rusak. 

Polisi Israel telah menangkap puluhan warga Arab karena dicurigai menghasut dan mendukung Hamas, berdasarkan unggahan mereka di media sosial. Beberapa pengacara menggambarkan penangkapan yang dilakukan Israel melanggar hukum dan dirancang untuk membungkam perbedaan pendapat dalam perang.

Israel memulai pengepungan total terhadap Gaza setelah serangan lintas batas di Israel selatan pada 7 Oktober oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu (21/10/2023) mengatakan, serangan udara dan rudal Israel telah menewaskan sedikitnya 4.385 warga Palestina, termasuk ratusan anak-anak, dan lebih dari satu juta orang di wilayah kecil itu menjadi pengungsi.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement