Selasa 31 Oct 2023 21:08 WIB

Retno Marsudi Bahas Gaza dengan Menteri Luar Negeri Belanda

Belanda sangat prihatin dengan situasi kemanusiaan di Gaza.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi (kanan) dan Menteri Luar Negeri Belanda Hanke Bruins Slot (kiri) menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan bilateral di Gedung Kemenlu, Pejambon, Jakarta, Selasa (31/10/2023). Pertemuan tersebut membahas kerja sama budaya, investasi, dan perdagangan sekaligus membahas repatriasi benda-benda cagar budaya milik Indonesia dari Belanda serta penanganan pengiriman bantuan kemanusiaan di Gaza, Palestina.
Foto: EPA-EFE/MAST IRHAM
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi (kanan) dan Menteri Luar Negeri Belanda Hanke Bruins Slot (kiri) menyampaikan keterangan kepada wartawan usai melakukan pertemuan bilateral di Gedung Kemenlu, Pejambon, Jakarta, Selasa (31/10/2023). Pertemuan tersebut membahas kerja sama budaya, investasi, dan perdagangan sekaligus membahas repatriasi benda-benda cagar budaya milik Indonesia dari Belanda serta penanganan pengiriman bantuan kemanusiaan di Gaza, Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi membahas situasi di Gaza sedang menghadapi pengeboman Israel selama dua pekan lebih. Persoalan ini bahas dalam kunjungan pertama Menteri Luar Negeri Belanda Hanke Bruins Slot yang dilantik bulan lalu.

Dalam konferensi pers usai pertemuan di Kementerian Luar Negeri Indonesia, Retno mengatakan ia membahas situasi di Gaza dengan Hanke. Retno mengatakan kunjungan ini pertemuan ketiganya dengan Hanke setelah pertemuan sela di Majelis Umum PBB pada bulan September dan Debat PBB mengenai Gaza pekan lalu.

Baca Juga

"Kami melanjutkan diskusi kami di New York mengenai situasi yang memburuk di Gaza. Posisi Indonesia sangat jelas. Masalah kemanusiaan harus menjadi fokus kita semua sekarang," kata Retno, Selasa (31/10/2023).

"Dewan Keamanan PBB kembali mengadakan pertemuan di New York pada Senin pagi, mendengarkan laporan dari UNRWA (Agensi Pekerjaan dan Pemulihan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat), UNOCHA (Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB) dan UNICEF (Dana Anak-Anak) mengenai situasi di Gaza," tambah Retno.

Ia mengatakan semua laporan menyebutkan rakyat Gaza semakin putus asa. Dalam konferensi pers itu Retno mengutip sebagian dari laporan UNOCHA.

"Situasi bagi lebih dari dua juta orang yang terjebak di Jalur Gaza adalah bencana. Mereka telah mengalami pengepungan dan pengeboman terus menerus selama 23 hari. Dan menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 8.000 orang telah terbunuh - 66 persen di antaranya adalah wanita dan anak-anak. Puluhan ribu lainnya terluka. Skala kengerian yang dialami orang-orang di Gaza sulit untuk disampaikan. Orang-orang menjadi semakin putus asa, ketika mereka mencari makanan, air, dan tempat berlindung di tengah kampanye pengeboman tanpa henti yang memusnahkan seluruh keluarga dan seluruh lingkungan," kata Retno mengutip UNOCHA.

"Saya tidak dapat memahami bahwa dengan situasi kemanusiaan seperti ini, DK PBB tetap berdiam diri hingga saat ini. Dan Indonesia tidak akan mundur dalam membela keadilan dan kemanusiaan rakyat Palestina," tegas Retno.

Sementara itu Hanke mengatakan Indonesia salah satu negara pertama yang ia pilih untuk melakukan kunjungan bilateral. Hal ini, katanya, mencerminkan hubungan khusus dan erat yang dimiliki kedua negara.

"Dan pada saat yang sama, ini juga menunjukkan bahwa banyak hal yang dapat kami diskusikan. Seperti yang kami lakukan hari ini. Kami mendiskusikan keprihatinan bersama mengenai perkembangan di Timur Tengah, Ukraina dan Myanmar misalnya," katanya.

"Tetapi juga pandangan kami bersama tentang bagaimana menghadapi tantangan global atau bisa saya katakan: tantangan kita dan masa depan kita. Upaya kita untuk mewujudkan dunia yang stabil dan damai berdasarkan hukum internasional," tambahnya.

Dalam konferensi pers Hanke mengatakan ia sangat yakin pada tahun 2023, cara yang paling efektif untuk melangkah ke depan adalah melalui kemitraan yang didasarkan pada kepentingan bersama dan pandangan yang sama tentang masa depan.

"Hari ini kita berbicara tentang bagaimana kita dapat lebih memperkuat dan memperdalam hubungan kita.  Misalnya dengan memberikan dorongan baru pada kesepakatan dalam Deklarasi Bersama tentang Kemitraan Komprehensif tahun 2013," katanya.

"Kami berbicara tentang perkembangan terbaru dan sangat mengkhawatirkan di Israel dan Gaza, di mana peristiwa-peristiwa berkembang dengan cepat, dengan korban tak berdosa di pihak Israel dan Palestina," tambahnya.

Ia mengatakan perkembangan ini menuntut tanggapan diplomatik bersama. Hanke mengatakan Belanda sangat prihatin dengan situasi kemanusiaan di Gaza dan kurangnya akses kemanusiaan.

"Oleh karena itu, kami menyerukan agar ada jeda kemanusiaan dan pembentukan koridor kemanusiaan.  Belanda menggunakan semua cara yang tersedia untuk memfasilitasi masuknya makanan, air, bahan bakar dan obat-obatan ke Gaza," katanya.

Namun ia menegaskan kembali posisi Belanda bahwa Israel memiliki hak untuk mempertahankan diri dari teror Hamas. Tetapi ia juga menekankan pentingnya  bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional.

"Korban sipil dan eskalasi regional harus dicegah. Hal ini membutuhkan pengekangan dari Israel dalam hal penggunaan kekuatan.

"Meskipun negosiasi perdamaian masih jauh, solusi dua negara adalah satu-satunya jalan yang realistis menuju perdamaian dan keamanan bagi Israel dan Palestina. Inilah yang juga saya tekankan minggu lalu di New York," tambahnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement