Rabu 01 Nov 2023 21:47 WIB

WHO: Ribuan Orang di Gaza Menderita Penyakit Kronis

Lebih dari 1.000 pasien di Gaza membutuhkan dialisis ginjal untuk tetap hidup.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Warga Palestina memeriksa kerusakan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, Jumat (27/2023).
Foto: AP/Abed Khaled
Warga Palestina memeriksa kerusakan bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, Jumat (27/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyambut baik evakuasi pertama pasien terluka dari Jalur Gaza. Namun menekankan masih terdapat ribuan korban luka lainnya dan orang-orang dengan penyakit kronis yang membutuhkan perawatan.

Lebih dari 1.000 pasien membutuhkan dialisis ginjal untuk tetap hidup, lebih dari 2.000 pasien membutuhkan perawatan kanker, dan 45 ribu orang dengan penyakit jantung dan lebih dari 60 ribu orang memiliki diabetes.

Baca Juga

"Pasien-pasien yang harus mendapatkan akses terus-menerus pada layanan kesehatan di dalam rumah sakit Gaza dan fasilitas kesehatan lainnya harus dilindungi dari pengeboman dan penggunaan militer," kata WHO seperti dikutip Aljazirah, Rabu (1/11/2023).

Kementerian Kesehatan di Gaza mengatakan hampir 8.800 orang tewas sejak perang dengan Israel meletus. Total korbannya termasuk 3.600 anak-anak, sementara lebih dari 22 ribu orang terluka.

Sebelumnya dalam konferensi pers mengenai situasi di Gaza, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan rumah sakit-rumah sakit di Gaza termasuk rumah sakit Indonesia di kantong pemukiman tersebut akan berhenti beroperasi bila pasokan bahan bakar berhenti.

"Dari pernyataan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza yang menyampaikan last appeal Rabu pagi mengenai pentingnya pasokan bahan bakar untuk merawat dan menyelamatkan nyawa manusia yang dirawat di rumah sakit," kata Retno.  

"Dalam rilis tersebut disebutkan waktu tinggal beberapa jam sebelum generator utama dua rumah sakit, yaitu rumah sakit Al Syifa Medical Complex dan juga Rumah Sakit Indonesia, akan mengalami shut down kalau tidak ada tambahan pasokan bahan bakar.

Nah dari informasi ini, kita kemudian melakukan komunikasi dengan teman-teman relawan Mer-C yang ada di lapangan. Dan dari komunikasi kita diperoleh informasi bahwa waktu yanga tersisa adalah kurang lebih 48 jam sejak tadi pagi, karena kita melakukan komunikasi tadi pagi, sebelum generator utama mengalami shut down," tambahnnya.

Ia mengatakan Indonesia terus berusaha agar bahan bakar dan air bersih dapat masuk ke Gaza selain kebutuhan bahan pokok yang diperlukan rakyat Palestina di sana."Dengan situasi ini, kita intensifkan komunikasi agar bahan bakar dapat segera masuk ke Gaza dengan alasan kemanusiaan. Sekali lagi dengan alasan kemanusiaan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement