Sabtu 04 Nov 2023 05:00 WIB

Serangan Israel Bunuh Tiga Generasi Keluarga Gaza

Ratusan warga Palestina telah terbunuh setiap hari dan malam sejak pemboman dimulai.

Warga Palestina mengevakuasi korban dari bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, pada 27 Oktober 2023.
Foto: AP Photo/Abed Khaled
Warga Palestina mengevakuasi korban dari bangunan yang hancur akibat serangan udara Israel di Kota Gaza, pada 27 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Saat itu Jumat malam, dan Amani al-Hor baru saja kembali ke rumah ketika rudal menghantam rumah orangtuanya tepat di sebelahnya.

sebelum kejadian pilu itu, dia menghabiskan beberapa jam di sana malam itu, bermain kartu dengan sepupunya untuk mengalihkan pikiran dari suara bom udara. Dia mengobrol dengan saudara-saudaranya dan kemudian membawa keempat anaknya, yang menurutnya “mengganggu”, kembali ke rumahnya sendiri.

Baca Juga

Ada delapan keluarga dari tiga generasi yang tinggal dengan orang tua dari pria berusi 28 tahun malam itu. Rumah orang tua Amani berada di kamp pengungsi Nuseirat.

Orang tua Amani, anak-anak mereka yang sudah menikah, cucu-cucu dan kerabat lainnya yang mengungsi dari rumah masing-masing memang sedang berkumpul semuanya. Namun tidak lama setelah pukul 20.00, serangan udara Israel menargetkan rumah tersebut.

Sekitar 40 anggota keluarga Amani terbunuh, termasuk orang tuanya, hampir seluruh saudara kandungnya, dan setiap anak mereka. Serangan tersebut juga merusak rumah Amani.

“Saya baru saja menemukan dinding dan langit-langit runtuh menimpa kami. Saya tidak mendengar suara misil tersebut. Rasanya seperti berada di dalam kuburan. Entah bagaimana, saya menangkap keempat anak saya dalam kegelapan dan kami berhasil keluar," ujar Amani dikutip dari Aljazirah.

Masih dalam keadaan shock, dia mulai menghitung anggota keluarga yang terbunuh. “Adikku dan keempat anaknya, saudara laki-laki saya, istrinya dan keempat putri mereka, ipar perempuan saya yang lain, putra dan dua putrinya, tetapi suaminya, saudara laki-laki saya yang lain selamat,” kata Amani.

“Itu adalah gedung yang sangat ramai dan anak-anak membuat banyak keributan. Kebanyakan dari mereka masih berada di bawah reruntuhan. Saya berharap saya bisa melihat ayah saya,” ujarnya.

Amani mengaku hanya melihat punggung ayahnya malam itu karena sedang menceritakan sesuatu kepada saudara-saudara saat dirinya hendak pergi. "Tubuh ibuku tercabik-cabik. Di rumah sakit, saya hanya melihat lengannya, dan ususnya keluar dari perutnya," kata pria itu.

Amani sangat dekat dengan saudara perempuannya, berbicara dengan mereka setiap hari “Saya berharap saya dibunuh bersama mereka,” katanya putus asa.

Keluarga Amani menambah korban jiwa akibat serangan tidak pandang bulu dari Israel. Lebih dari 9.000 warga Palestina yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak telah dibunuh oleh pasukan Israel sejak mereka memulai serangan di Jalur Gaza pada tanggal 7 Oktober. Lebih dari 32 ribu lainnya terluka.

Ratusan warga Palestina telah terbunuh setiap hari dan malam sejak pemboman dimulai, sehingga rumah sakit kewalahan. Kini fasilitas kesehatan berada dalam keadaan runtuh karena blokade total yang diberlakukan oleh Israel.

Listrik, air bersih, dan bahan bakar habis, dan tidak ada pasokan medis atau perawatan yang bisa menyelamatkan nyawa. Setidaknya 15 rumah sakit dan pusat kesehatan terpaksa berhenti beroperasi, sehingga pasien harus dipindahkan ke rumah sakit lain yang sudah penuh sesak.

Banyaknya jumlah korban jiwa dalam 24 hari terakhir telah mempercepat proses upacara pemakaman dan penguburan. Ditambah lagi dengan penderitaan karena menguburkan anggota keluarga di kuburan massal.

“Sebelum perang, pemakaman memiliki ritual yang diikuti. Puluhan atau ratusan orang akan mendoakan almarhum sebelum membawanya ke kuburan untuk dimakamkan. Sekarang, hanya ada segelintir orang yang bisa mendoakan orang yang mereka cintai," kata Mukhtar al-Hor yang merupakan Amani.

Mukhtar mengatakan, sejauh ini sedikitnya 18 jenazah telah dikeluarkan dari bawah reruntuhan kamp pengungsi Nuseirat. Namun beberapa di antaranya merupakan bagian tubuh yang belum dapat diidentifikasi.

“Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya menguburkan keluarga Anda di kuburan massal. Mereka tidak melakukan upacara pemakaman seperti yang biasa kami lakukan pada saat-saat biasa," ujar pria berusia 58 tahun itu.

Walikota Deir el-Bala Diab al-Jaru mengatakan, tidak ada pilihan lain selain menguburkan orang di kuburan massal, yang biasanya dipisahkan berdasarkan jenis kelamin. “Jumat malam saja, 150 orang terbunuh. Kami tidak punya pilihan selain mengubur semuanya,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement