Ahad 12 Nov 2023 17:47 WIB

Seorang Nenek Mengalami Dua Kali Nakba

Seorang nenek berusia 90 tahun jadi saksi hidup dua kali nakba

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Warga Palestina mengungsi ke Jalur Gaza selatan di Jalan Salah al-Din di Bureij, Jalur Gaza, pada Rabu, (8/11/2023).
Foto: Israel, Palestinians
Warga Palestina mengungsi ke Jalur Gaza selatan di Jalan Salah al-Din di Bureij, Jalur Gaza, pada Rabu, (8/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Seorang nenek berusia 90 tahun tidak menyangka harus mengulangi momen menyakitkan yang pernah dialaminya pada saat remaja. Dia harus kembali mengungsi dari tempat tinggalnya akibat serangan Israel di wilayah Gaza utara.

Dalam cuplikan video yang dibagikan Aljazirah, perempuan itu merupakan sosok yang berhasil selamat dalam peristiwa Nakba pada 1948. Ketika itu, dia masih berusia 15 tahun. Dalam peristiwa kali ini, dia harus meninggalkan Kota Gaza untuk menyelamatkan diri ke selatan wilayah kantung Palestina itu dengan menempuh jarak hingga lima kilometer.

Baca Juga

Video tersebut menunjukan seorang nenek yang dipapah oleh dua orang. Dia berjalan perlahan di antara kerumunan orang-orang lain yang berjalan kaki untuk menyelamatkan diri.

Gambaran puluhan ribu warga sipil, perempuan, anak-anak, tua dan muda, menuju perbatasan Mesir atau wilayah selatan dengan harapan bisa lolos dari pengeboman, mengingatkan pada ratusan ribu warga Palestina yang diasingkan dari tanah air saat berdirinya Israel pada 1948.

"Dia baru lahir pukul 06.30 pagi hari ini, dan pukul 09.00 dia dan ibunya yang belum beristirahat harus berjalan meninggalkan Gaza," ujar salah satu warga bernama Umm Hussein yang ikut berjalan dalam rombongan tersebut.

Dia menyatakan, perjalanan yang dilalui sangat menyiksa. Mereka berjalan kaki menempuh jarak sangat jauh untuk mencari tempat aman yang belum tentu juga terjamin keamanannya.

Rumah sakit, tempat penampungan, kamp pengungsi telah menjadi sasaran serangan udara Israel. Menurut keterangan Bulan Sabit Merah Palestina, rumah sakit di Gaza dengan sengaja menjadi target dalam menyerang warga sipil.

Militer Israel melaporkan, sebanyak 100 ribu orang telah berpindah ke selatan dalam dua hari. Sedangkan banyak orang terlantar akibat himbauan untuk berpindah tersebut.

Aktivis hak asasi manusia Israel Ofer Neiman mengatakan, pemindahan paksa warga Palestina dari utara ke selatan Jalur Gaza oleh tentara Israel adalah langkah pertama pembersihan etnis. “Kami juga melihat bahwa bagian selatan Gaza tidak aman bagi warga Palestina. Kami juga menyaksikan serangan dan pemboman tentara Israel terhadap warga Palestina di sana," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement