Kamis 23 Nov 2023 11:31 WIB

Kasus Pembunuhan Pemimpin Hamas oleh Agen Rahasia Israel yang Menarik Perhatian Dunia

Benjamin Netanyahu memerintahkan Mossad dan Shin Bet untuk membunuh pemimpin Hamas.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Pejuang brigade Izz ad-Din al-Qassam, sayap militer Hamas (ilustrasi). Mossad dan Shin Bet dilaporkan telah membentuk pusat operasi pasukan khusus yang bertugas melacak dan membunuh pemimpin Hamas.
Foto:

Salah satu anggota tim adalah seorang Israel yang mendapatkan paspor Jerman dengan nama samaran Michael Bodenheimer, seorang Amerika yang berhak mendapatkan kewarganegaraan Jerman melalui ayahnya. Identitas ini adalah satu-satunya paspor yang tidak dipalsukan dalam Operation Plasma Screen tetapi terbukti menjadi mata rantai lemah dalam misi yang sangat koreografinya.

Mata-mata tersebut mengajukan permohonan dokumen Jerman menggunakan paspor Israel dan alamat fiktif sehingga ceritanya dengan cepat terbongkar. Di Cologne, Badan Kebijakan Kriminal Federal Jerman segera mengetahui bahwa 'Michael Bodenheimer' alias Uri Brodsky, alias Alexander Varin adalah orang yang sama.

Brodsky/Varin ditangkap di Polandia dan dipulangkan ke Jerman pada Agustus 2010. Setelah jaminan tunai sebesar 100 ribu euro dibayarkan untuk pembebasannya, Brodsky/Varin segera meninggalkan Jerman menuju Tel Aviv.

“Karena dia, kita sekarang tahu bahwa Mossad berada di balik semua yang terjadi di Dubai pada 19 Januari,” ujar Dan Magen dalam buku Israeli Mossad - The True Story yang diterbitkan 2017.

Hingga saat ini tidak jelas cara al-Mabhouh meninggal. Wartawan BBC Jane Corbin mengatakan, dia dicekik dengan bantal. Bergman mengatakan, para pembunuh menggunakan gadget dengan gelombang ultrasonik yang dapat menyuntikkan obat tanpa merusak kulit. Namun Magen menyatakan, mungkin kombinasi cara-cara tersebut digunakan.

Al-Mabhouh meninggal dalam waktu 20 menit. Kamera CCTV merekam empat pembunuh keluar dari Kamar 230. Sebagian besar tim meninggalkan Dubai dalam beberapa jam dan sisanya hilang dalam 24 jam.

Keamanan hotel menemukan mayat al-Mabhouh keesokan harinya ketika dia tidak menjawab ketukan pelayan hotel. Kepala polisi Dubai memerintahkan otopsi dan menyusun daftar pengunjung yang masuk dan keluar Dubai pada waktu yang hampir bersamaan dengan perjalanan al-Mabhouh pada 2009 hingga 2010.

Polisi menemukan tim mencurigakan yang terdiri dari ‘warga negara’ Inggris, Irlandia, Australia, Prancis, dan Jerman menggunakan paspor yang sama pada setiap perjalanan. Nama mereka direferensikan silang dengan daftar tamu hotel Al Bustan.

Mantan kepala Mossad Meir Dagan mengakui kesalahannya untuk pertama kalinya. “Saya salah dalam mengirimkan tim dengan paspor tersebut. Itu adalah keputusanku dan satu-satunya keputusanku. Saya memikul tanggung jawab penuh atas apa yang terjadi," ujarnya yang berhenti atau dikeluarkan dari jabatannya sebagai kepala intel Mossad pada akhir 2010. 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement