Sabtu 25 Nov 2023 14:58 WIB

Meski Gencatan Senjata, Nyatanya Israel Tetap Serang Tepi Barat

Israel melanjutkan serangan militer dan penculikan di Tepi Barat

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Pasukan Israel melanjutkan serangan militer dan kampanye penangkapan di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat pada Jumat (24/11/2023).
Foto: AP
Pasukan Israel melanjutkan serangan militer dan kampanye penangkapan di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat pada Jumat (24/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Pasukan Israel melanjutkan serangan militer dan penculikan di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat pada Jumat (24/11/2023). Padahal gencatan senjata di Gaza dimulai pada waktu yang bersamaan.

Menurut laporan Anadolu Agency, tentara Israel melakukan penggerebekan di beberapa kota besar dan kecil di Tepi Barat. Tindakan ini mengakibatkan penangkapan banyak warga Palestina.

Baca Juga

Dalam insiden terpisah, sumber medis Palestina memberi tahu, setidaknya satu warga Palestina terluka dalam serangan Israel ke kawasan Kota Tua Nablus. Saksi mata melaporkan, bahwa pasukan Israel menahan dua warga Palestina dalam penggerebekan di Nablus, dengan dua mobil warga Palestina dibakar sebelum pasukan mundur dari kota tersebut.

Ketegangan masih tinggi di Tepi Barat sejak pecahnya pertempuran antara kelompok Palestina dan Israel di Gaza pada 7 Oktober. Jeda kemanusiaan selama empat hari antara tentara Israel dan Hamas mulai berlaku di seluruh wilayah Jalur Gaza pada Jumat, menghentikan sementara serangan untuk pertukaran tahanan dan bantuan.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sejak 7 Oktober, 220 warga Palestina di Tepi Barat telah dibunuh oleh tentara Israel dan serangan oleh pemukim Israel. Tentara Israel telah melaporkan menahan lebih dari 1.800 warga Palestina dalam kurun waktu yang sama atas tuduhan bahwa sebagian besar dari mereka memiliki hubungan dengan kelompok perlawanan Palestina Hamas.

Sejak awal 2023, 416 warga Palestina telah terbunuh di Tepi Barat dalam operasi militer Israel, serangan oleh pemukim Israel, atau serangan pribadi. Kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat telah meningkat sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober.

Tindakan itu pun menarik perhatian Barat, meski hanya menyoroti tindakan para pemukim Israel, bukan militer. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan,  meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh ekstremis di wilayah pendudukan Tepi Barat harus dihentikan. “Kita harus mencegah kekerasan menyebar, dan oleh karena itu hidup berdampingan secara damai hanya mungkin terjadi melalui solusi dua negara,” kata Von der Leyen pada konferensi pers di Kanada bersama Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan Presiden Dewan Eropa Charles Michel.

AS dan Inggris soroti Tepi Barat....

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement