Rabu 29 Nov 2023 07:52 WIB

Prancis: Proses Negosiasi Pembebasan Sandera dan Tahanan Berjalan Sulit

Tiga warga negara Prancis dibebaskan oleh Hamas pada hari Senin.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nidia Zuraya
Menteri Luar Negeri Prancis Catherine Colonna mengungkapkan situasi negosiasi pembebasan sandera sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas berjalan sulit.
Foto: EPA-EFE/OLIVIER MATTHYS
Menteri Luar Negeri Prancis Catherine Colonna mengungkapkan situasi negosiasi pembebasan sandera sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas berjalan sulit.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Menteri Luar Negeri Prancis, Catherine Colonna, mengungkapkan situasi negosiasi pembebasan sandera sandera dan tahanan antara Israel dan Hamas berjalan sulit. Ia juga mengungkapkan kelegaannya tiga warga negara Prancis termasuk di antara kelompok terakhir yang dibebaskan pada Senin (27/11/2023).

"Sampai saat terakhir, Anda tidak tahu. Daftarnya berubah namun setelah itu sering terjadi kesulitan," kata Colonna di stasiun radio RTL, Selasa (28/11/2023).

Baca Juga

Ia mengatakan pada Senin kemarin selama setengah hari "ada kekhawatiran dan pertanyaan tentang pertukaran sandera dan tahahan.  Ia mengatakan telah berbicara dengan rekan-rekan kementerian dari beberapa negara Arab untuk mendorong proses tersebut.

"(Akhirnya) semuanya berjalan dengan baik. Ya, saya tidak akan menyembunyikan bahwa pada akhirnya, ada perasaan lega yang besar," katanya.

Tiga warga negara Prancis yang dibebaskan hari Senin adalah anak-anak, berusia 12 dan 16 tahun. Prancis masih menghitung lima warganya yang hilang, beberapa di antaranya diperkirakan masih disandera Hamas dalam serangan 7 Oktober lalu.

Sementara itu Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan kembali seruannya untuk gencatan senjata jangka panjang di Gaza dan pembebasan semua sandera yang ditahan oleh militan Palestina.

Dalam sebuah pernyataan menjelang Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina, Guterres mengatakan rakyat Palestina mengalami "salah satu babak paling gelap" dalam sejarah mereka.

Guterres kembali mengutuk serangan Hamas yang memicu perang kelima dan yang paling mematikan di Gaza. Tetapi mengatakan hal itu "tidak dapat membenarkan hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina."

Ia menyerukan "gencatan senjata kemanusiaan jangka panjang, akses tak terbatas untuk bantuan penyelamatan nyawa, pembebasan semua sandera, perlindungan warga sipil, dan penghentian pelanggaran hukum kemanusiaan internasional."

Israel dan Hamas sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata sementara hingga hari Rabu (29/11/2023), dengan lebih banyak rencana pembebasan sandera yang ditahan militan dan warga Palestina yang dipenjara di Israel. Namun Israel bersumpah untuk melanjutkan perang untuk menghancurkan Hamas begitu mereka berhenti membebaskan sandera.

sumber : AP
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement