Kamis 30 Nov 2023 06:48 WIB

Hari Terakhir Gencatan Senjata: Hamas Bebaskan 16 Sandera Termasuk WN Thailand

Sebagai bagian dari kesepakatan, Israel akan membebaskan 30 tahanan Palestina.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Warga menyaksikan helikopter tentara Israel yang membawa warga Israel yang disandera Hamas di helipad Schneider-Childrens Medical Center di Petah Tikva, Israel, Jumat (24/11/2023).
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Warga menyaksikan helikopter tentara Israel yang membawa warga Israel yang disandera Hamas di helipad Schneider-Childrens Medical Center di Petah Tikva, Israel, Jumat (24/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Hamas membebaskan 16 sandera pada Rabu (29/11/2023), bertepatan dengan hari terakhir gencatan senjata. Kelompok warga sipil yang dibebaskan tersebut termasuk warga Israel, warga berkewarganegaraan ganda, dan warga negara Thailand.

Sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan, Israel akan membebaskan 30 tahanan Palestina, termasuk 16 anak di bawah umur dan 14 wanita pada Rabu malam.

Baca Juga

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengidentifikasi dua perempuan Rusia-Israel yang dibebaskan pada Rabu malam sebagai Yelena Trupanov (50 tahun) dan Irena Tati (73 tahun). Video dari sayap bersenjata Hamas menunjukkan kedua perempuan tersebut diserahkan ke Komite Merah Internasional. 

Sejauh ini sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam telah membebaskan lebih dari 70 wanita dan anak-anak Israel berdasarkan kesepakatan yang menjamin gencatan senjata. Orang asing lainnya, terutama pekerja pertanian asal Thailand, juga dibebaskan berdasarkan perjanjian paralel yang berbeda. 

 

Sebagai imbalannya, Israel telah membebaskan 180 tahanan Palestina yang terdiri dari perempuan dan anak-anak. Gencatan senjata awal selama empat hari diperpanjang 48 jam sejak Selasa (28/11/2023).

Israel bersedia memperpanjang gencatan senjata selama Hamas membebaskan 10 sandera per hari. Namun, dengan semakin sedikitnya jumlah perempuan dan anak-anak yang ditahan, kedua pihak menyetujui persyaratan yang mengatur pembebasan setidaknya beberapa pria Israel untuk pertama kalinya.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengulangi pernyataan sebelumnya untuk melanjutkan perang guna menghancurkan Hamas setelah gencatan senjata berakhir. “Tidak mungkin kita tidak akan kembali berperang sampai akhir. Ini adalah kebijakan saya, seluruh kabinet mendukungnya, seluruh pemerintah mendukungnya, tentara mendukungnya, rakyat mendukungnya, ini adalah hal yang tepat,” kata Netanyahu.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan, Jalur Gaza berada di tengah-tengah bencana kemanusiaan yang besar. Dia mendesak dunia untuk tidak mengabaikannya.

“Negosiasi intensif sedang dilakukan untuk memperpanjang gencatan senjata, yang sangat kami sambut baik, namun kami yakin kami memerlukan gencatan senjata kemanusiaan yang sesungguhnya,” kata Guterres kepada Dewan Keamanan PBB.

Sementara itu, terjadi bentrokan di Kota Jenin di Tepi Barat antara tentara Israel dan warga Palestina. Kantor berita resmi Palestina WAFA melaporkan, seorang anak laki-laki berusia 8 tahun, seorang remaja berusia 15 tahun dan dua komandan senior pejuang meninggal dalam bentrokan itu. Militer Israel menuduh orang-orang Palestina melemparkan alat peledak ke tentara Israel. Tentara Israel kemudian membalasnya dengan tembakan langsung.

Dua pejabat Palestina mengatakan kepada Reuters bahwa pembicaraan terus berlanjut mengenai kemungkinan perpanjangan gencatan senjata, yang dijadwalkan berakhir pada Kamis (30/11/2023) pagi, namun belum ada kesepakatan yang dicapai. Osama Hamdan, seorang pejabat senior Hamas di Lebanon, mengatakan, upaya untuk memperpanjang gencatan senjata belum matang.

"Apa yang telah kita lihat sejauh ini tidak layak untuk dipelajari," ujar Hamdan.

Seorang pejabat Israel sebelumnya mengatakan, tidak mungkin memperpanjang gencatan senjata tanpa komitmen untuk membebaskan semua perempuan dan anak-anak yang disandera.  Pejabat itu mengatakan, Israel yakin pejuang Hamas masih menahan cukup banyak perempuan dan anak-anak untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua hingga tiga hari.

Seorang pejabat Palestina mengatakan, para perunding sedang mempertimbangkan apakah laki-laki Israel akan dibebaskan dengan persyaratan yang berbeda dari pertukaran tiga tahanan Palestina untuk setiap sandera Israel yang berlaku bagi perempuan dan anak-anak. Juru bicara pemerintah Israel, Eylon Levy, mengatakan Israel akan mempertimbangkan usulan serius apa pun.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement