Senin 04 Dec 2023 06:28 WIB

Inggris Kerahkan Drone ke Gaza Cari Sandera

Pejuang Hamas menangkap sekitar 240 warga Israel dan tawanan asing pada 7 Oktober.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nidia Zuraya
Warga menyaksikan helikopter tentara Israel yang membawa warga Israel yang disandera Hamas di helipad Schneider-Childrens Medical Center di Petah Tikva, Israel, Jumat (24/11/2023).
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Warga menyaksikan helikopter tentara Israel yang membawa warga Israel yang disandera Hamas di helipad Schneider-Childrens Medical Center di Petah Tikva, Israel, Jumat (24/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan, militernya akan melakukan penerbangan pengawasan di Gaza untuk membantu dalam menemukan tawanan yang ditahan oleh Hamas. Upaya terbaru ini membuat Inggris bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dalam mendukung Israel dalam perang melawan kelompok yang memimpin pemerintahan di Gaza.

“Untuk mendukung aktivitas penyelamatan sandera yang sedang berlangsung, Kementerian Pertahanan Inggris akan melakukan penerbangan pengawasan di Mediterania Timur, termasuk beroperasi di wilayah udara di Israel dan Gaza,” kata Kementerian Pertahanan Inggris dalam sebuah pernyataan dikutip dari Aljazirah.

Baca Juga

Inggris tidak mengungkapkan kapan penerbangan pengawasan militernya di wilayah kantung Palestina tersebut akan dimulai. Namun London menekankan bahwa mereka tidak akan bersenjata dan hanya fokus pada upaya pemulihan tawanan.

“Pesawat pengintai tidak akan dipersenjatai, tidak memiliki peran tempur, dan hanya akan ditugaskan untuk mencari sandera,” ujar Kementerian Pertahanan Inggris.

“Hanya informasi terkait penyelamatan sandera yang akan diteruskan ke otoritas terkait yang bertanggung jawab atas penyelamatan sandera," ujar keterangan itu.

Menteri Pemerintah Inggris Victoria Atkins mengatakan kepada BBC pada Ahad (3/11/2023), bahwa pesawat yang akan digunakan adalah drone tak bersenjata dan tak berawak.

Pejuang Hamas menangkap sekitar 240 warga Israel dan tawanan asing selama serangan pada 7 Oktober. Israel mengatakan 110 orang telah dibebaskan dengan 86 warga Israel dan 24 warga asing. Sebagai imbalan pertukaran sekitar 240 tahanan Palestina dibebaskan dari penjara-penjara di Israel.

Inggris mengatakan, setidaknya 12 warga negara Inggris tewas dalam serangan mengejutkan oleh Hamas ke wilayah prebatasan Israel pada 7 Oktober. Namun London belum mengonfirmasi berapa banyak warganya yang ditahan oleh Hamas.

Bersamaan dengan AS, Inggris pada Oktober mengerahkan berbagai aset militer ke Mediterania Timur untuk mencegah campur tangan dalam konflik tersebut. Armada yang dikerahkan termasuk pesawat patroli dan pengawasan maritim serta kelompok tugas Angkatan Laut Kerajaan.

Menteri Pertahanan Inggris Grant Shapps menyatakan, ekspor pertahanan Inggris ke Israel berjumlah 42 juta poundsterling tahun lalu. Dia mengatakan bahwa London tidak memiliki rencana untuk menghentikan penjualan senjata ke Inggris.

Sementara itu, AS yang merupakan pemasok senjata terbesar ke Israel bertujuan untuk mencabut hampir semua pembatasan akses Israel terhadap senjata dari AS. Jika dikabulkan oleh anggota parlemen, permintaan tersebut akan memungkinkan Israel untuk mengakses lebih banyak senjata yang berkekuatan tinggi dengan biaya yang lebih rendah dengan pengawasan kongres yang lebih sedikit.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement