Rabu 06 Dec 2023 16:57 WIB

Israel Akui Pasukan Hamas Bunuh Dua Tentaranya

Hamas bunuh dua tentara Israel saat perang kembali dilanjutkan

Rep: Amri Amrullah / Red: Esthi Maharani
Tentara Israel dengan kendaraan tempur lapis baja mereka berkumpul di posisi dekat perbatasan dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, (2/12/2023).
Foto: EPA-EFE/ATEF SAFADI
Tentara Israel dengan kendaraan tempur lapis baja mereka berkumpul di posisi dekat perbatasan dengan Jalur Gaza, di Israel selatan, (2/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Pasukan Israel IDF mengawali pertempuran ke 61 pada Rabu (6/12/2023), dengan kehilangan dua tentaranya yang tewas di tangan pasukan Hamas. Sersan Satu (res.) Yehonatan Malka yang berusia 23 tahun tewas dalam pertempuran di Gaza dan Letnan Kolonel (res.) Yochai Gur Hershberg yang berusia 52 tahun diserang di dalam mobil.

IDF mengatakan 'pertempuran sengit' terus berlanjut di Gaza, dan mengumumkan tewasnya dua tentara lagi. Sementara itu, militer Israel menunjukkan frustasinya dengan terus menggempur wilayah Gaza Tengah dan Selatan dari udara.

Baca Juga

Akibatnya, warga Palestina di wilayah kantong ini, harus menghadapi serangan bertubi-tubi yang mengakibatkan melonjaknya jumlah korban jiwa Upaya Pemerintahan Biden yang ingin menekan agar meminimalisir kematian warga sipil, tak dipedulikan Israel. 

Sekitar 900 orang di Gaza syahid dalam serangan udara Israel antara hari Jumat ketika gencatan senjata berakhir hingga Senin, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Jumlah ini adalah jumlah yang sama dengan mereka yang tewas dalam serangan di Gaza selama empat hari setelah serangan lintas batas Hamas ke Israel pada 7 Oktober. 

Walau pemerintahan Biden berusaha menekan Israel agar meminimalisasi serangan ke warga sipil, tetapi pada saat yang sama mendesak Kongres AS untuk meloloskan rancangan undang-undang pendanaan tambahan bagi Israel dan Ukraina.

"Kami bertekad untuk memastikan bahwa Israel dapat melakukan apa yang diperlukan untuk memastikan bahwa peristiwa 7 Oktober tidak akan terjadi lagi. Kita harus mendukungnya dengan sumber daya," kata Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken dalam acara Perayaan Penghargaan Koalisi Kepemimpinan Global 2023 AS.

"Namun, yang juga penting, kita harus memastikan bahwa kita melakukan segala upaya untuk membantu mereka yang sangat membutuhkan bantuan, termasuk banyak pria, wanita, dan anak-anak tak berdosa di Gaza, yang sangat membutuhkan bantuan kita. Bantuan tambahan ini akan membantu memenuhi kebutuhan tersebut," ujarnya.

Washington untuk saat ini mengesampingkan penahanan pengiriman senjata atau mengkritik keras Israel sebagai cara untuk mengubah taktiknya. Karena AS percaya bahwa strategi yang ada saat ini, yaitu bernegosiasi secara pribadi, adalah efektif, menurut dua pejabat AS.

"Kami pikir apa yang kami lakukan adalah menggerakkan mereka," kata seorang pejabat senior AS, mengutip bagaimana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bergeser dari menolak mengizinkan bantuan masuk ke Gaza menjadi mengizinkan hampir 200 truk bantuan per hari, dan mengatakan bahwa perbaikan tersebut adalah hasil dari diplomasi yang intens, bukan ancaman.

Pejabat AS tersebut berbicara setelah tiga hari pemboman udara Israel di Gaza selatan yang berlanjut. Serangan itu membuat warga Palestina kembali kehilangan keluarga dan kerabat. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement