Senin 11 Dec 2023 19:46 WIB

Israel Tahan 142 Perempuan, Bayi, dan Lansia Palestina

Mereka ditahan setelah pasukan pendudukan Israel melancarkan serangan darat ke Gaza.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
 File - Seorang penjaga penjara berdiri di penjara Gilboa di Israel utara, Senin, 6 September 2021.
Foto: AP/Sebastian Scheiner
File - Seorang penjaga penjara berdiri di penjara Gilboa di Israel utara, Senin, 6 September 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, RAMALLAH -- Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan dan Masyarakat Tahanan Palestina (PPS) mengatakan, 142 perempuan, termasuk bayi dan lansia saat ini ditahan di penjara Israel. Mereka ditahan setelah pasukan pendudukan Israel melancarkan serangan darat ke Jalur Gaza.

Kantor berita Wafa melaporkan, para tahanan ditahan di beberapa penjara Israel, termasuk penjara Al-Damon dan Hasharon. Organisasi tahanan Palestina sebelumnya mengeluarkan pernyataan yang menyatakan pendudukan Israel melakukan kejahatan yang mengerikan terhadap para tahanan Gaza. Israel menolak untuk mengungkapkan nasib mereka, termasuk jumlah tahanan, tempat penahanan, dan status kesehatan.

Baca Juga

Organisasi tahanan Palestina menekankan bahwa kesaksian yang mengejutkan dan mengerikan dari warga Gaza yang baru-baru ini ditahan oleh pasukan Israel meningkatkan ketakutan yang tinggi atas nasib mereka. Mereka juga memperingatkan, tidak menutup kemungkinan Israel akan melakukan eksekusi lapangan terhadap tahanan dari Gaza.

Administrasi Penjara Israel mengumumkan, pada akhir November, 260 tahanan dari Gaza, yang diklasifikasikan oleh Israel sebagai pejuang yang melanggar hukum, ditahan di penjara-penjara tersebut.

Perempuan Palestina yang ditahan oleh Israel dipukuli dan dianiaya oleh penjaga. Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan menyoroti penderitaan Zainab Abu Sajdiyah (50 tahun) yang ditahan setelah pasukan pendudukan menggerebek rumah keluarganya di kamp pengungsi Dheisheh dekat Betlehem di wilayah selatan Tepi Barat sekitar pukul 03.00 dini hari pada 27 November 2023.  Tidak ada rincian yang diberikan tentang penangkapan Zainab.

Zainab mengatakan, dia diikat dan ditutup matanya, lalu dipaksa berjalan menuju jip militer, yang memindahkannya ke Penjara Hasharon.  Sesampainya di gerbang penjara, seorang tentara Israel menjambak rambutnya, dan seorang tentara wanita menampar wajahnya.

“Mereka sengaja mendorong saya sekuat tenaga dan menginjak kaki saya saat saya sedang menuruni tangga, lalu mereka menggeledah saya.  Saat pemeriksaan, saya dipukuli dan diberi segelas air. Salah satu tentara wanita menyuruh saya keluar saat saya hampir telanjang, tetapi saya menolak, jadi dia merobek mantel saya. Saya ingin mengancingkan mantel saya. Jadi dia menghentikan saya, lalu mereka memasukkan saya ke sel bersama tahanan perempuan lainnya yang tidak memiliki kebutuhan hidup minimum,” ujar Zainab, dilansir Middle East Monitor, Senin (11/12/2023).

“Penjaga perempuan masuk dan memukuli kami.  Dia menamparku dan memukul seluruh tubuhku dengan tinjunya.  Saya menerima pukulan keras di perut saya;  Saya merasa tidak bisa bernapas lagi.  Mereka juga mengencangkan borgol di tangan saya, hingga tangan saya bengkak," kata Zainab.

Kemudian, Zainab dipindahkan ke Penjara Damon yang terkenal kejam dan diizinkan mengunjungi klinik. Di klinik itu, Zainab memberi tahu tim medis bahwa dia telah menderita kanker sejak 2009 dan memerlukan pemeriksaan.

Zainab yang merupakan ibu dari lima anak, dijadwalkan hadir di pengadilan hari ini. Dua anak Zainab berada dalam tahanan Israel. Diperkirakan 55 tahanan perempuan Palestina ditahan di Penjara Damon, termasuk dua perempuan hamil dan 15 perempuan asal Gaza.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement