Selasa 12 Dec 2023 09:57 WIB

Setiap Jam, Lebih dari Tiga Perempuan Terbunuh di Gaza

Gaza menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi perempuan

Rep: Dwina Agustin/ Red: Esthi Maharani
Dua anak perempuan Palestina makan mie saat mereka berjalan pulang dari sekolah melalui deretan etalase toko yang ditutup untuk pemogokan umum yang menyerukan gencatan senjata di Gaza, di Kota Tua Yerusalem, Palestina, Senin (11/12/2023).
Foto:

Menurut Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOCHA), lebih dari 80 persen dari 2,3 juta penduduk Gaza telah menjadi pengungsi internal. Mereka tidak punya pilihan lain untuk mendapatkan tempat berlindung yang aman.

"Sebagai seorang perempuan, saya menderita. Saya tidak mempunyai akses terhadap kebutuhan dasar hidup. Tidak ada air. Saya menderita selama menstruasi. Tidak ada air yang tersedia untuk saya bersihkan selama menstruasi. Saya tidak punya pembalut untuk kebutuhan saya sendiri selama menstruasi," kata pekerja bantuan kemanusiaan dan seorang ibu bernama Aya. 

Di samping itu, dalam dua bulan terakhir, perempuan dan anak perempuan di Gaza telah menyaksikan pemandangan kematian dan kehancuran yang tak terbayangkan. Menurut ActionAid,  krisis ini telah menimbulkan dampak psikologis yang parah pada mereka. 

Karena tidak ada tempat yang aman, tidak ada kelegaan dari ketakutan akan pertanyaan apakah mereka dan keluarga akan hidup untuk melihat hari berikutnya. “Hari ini, saya tidak punya harapan lagi. Saya menjadi lebih takut dari sebelumnya. Setiap hari, ketakutan dan teror ini semakin bertambah. Saya sebagai seorang ibu hanya mempunyai dua keinginan. Hal pertama yang saya inginkan adalah saya mati sebelum anak-anak saya. Saya tidak ingin melihat anak-anak saya mati di depan saya. Harapan kedua adalah agar saya cepat mati,” ujar seorang ibu dan pekerja kemanusiaan yang mengungsi ke Gaza selatan bernama Yara. 

ActionAid mengulangi seruannya untuk gencatan senjata permanen. Organisasi kemanusiaan itu mengatakan, bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri kekerasan yang dialami perempuan dan anak perempuan di Gaza saat ini. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement