Jumat 26 Jan 2024 09:15 WIB

Myanmar Jadi Agenda Utama Pertemuan Menlu UE-ASEAN Pekan Depan

Agenda yang diprioritaskan adalah penanganan lebih lanjut konflik di Myanmar.

Mahasiswa memprotes semakin banyaknya kedatangan pengungsi Rohingya di provinsi Aceh, di luar gedung Kantor Pemerintah di Banda Aceh, Indonesia, (22/12/2023).
Foto: EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK
Mahasiswa memprotes semakin banyaknya kedatangan pengungsi Rohingya di provinsi Aceh, di luar gedung Kantor Pemerintah di Banda Aceh, Indonesia, (22/12/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Sujiro Seam, mengatakan bahwa Laos, yang menjadi ketua ASEAN tahun ini, akan menjadikan konflik di Myanmar sebagai salah satu prioritas penanganan selama keketuaannya. "Jelas bahwa Myanmar menjadi agenda utama," kata Sujiro Seam dalam Pertemuan Media di Jakarta, Kamis (25/1/2024).

Sujiro mengatakan pernyataan tentang agenda prioritas itu disampaikan oleh Perwakilan Permanen Republik Demokratik Laos untuk ASEAN Bovonethat Douangchak selama pertemuan kepala misi ASEAN-Uni Eropa di Jakarta. Dalam pertemuan itu, Sujiro mengatakan, perwakilan dari Laos itu berbagi pandangan dengan sejumlah duta besar negara-negara Uni Eropa untuk ASEAN tentang kepemimpinan Laos di ASEAN tahun ini.

Baca Juga

Salah satu agenda yang akan diprioritaskan dalam kepemimpinan tersebut adalah penanganan lebih lanjut atas konflik yang terjadi di Myanmar. Meski demikian, Sujiro tidak memerinci langkah-langkah yang akan ditempuh Laos untuk membantu menyelesaikan konflik di Myanmar.

"Pesan utamanya adalah mereka akan menggelar diskusi selama Pertemuan Perdana Menteri," katanya. Setelah pertemuan yang dijadwalkan akan digelar pada 28-29 Januari 2024, Sujiro memperkirakan, Uni Eropa akan memperoleh gambaran lebih jelas mengenai gagasan Laos untuk mengarahkan dan menavigasi masalah-masalah yang terjadi di ASEAN selama kepemimpinannya. "Setelah acara itu, kami akan memperoleh gagasan yang jelas ke mana Laos akan membawa komunitas dan keluarga ASEAN dan menavigasi situasi yang sulit, termasuk konflik di Myanmar," katanya.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement