Jumat 26 Jan 2024 17:26 WIB

Rusia Sebut Peristiwa Tragis di Gaza Bisa Dipandang Sebagai Genosida

Rusia desak Mahkamah Internasional (ICJ) untuk mengevaluasi definisi genosida.

Seorang anak Palestina yang terlantar memegang panci kosong sambil menunggu bersama orang lain untuk menerima bantuan makanan yang diberikan oleh kelompok pemuda Palestina di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza Selatan, (25/1/20240.
Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD
Seorang anak Palestina yang terlantar memegang panci kosong sambil menunggu bersama orang lain untuk menerima bantuan makanan yang diberikan oleh kelompok pemuda Palestina di kamp pengungsi Rafah, Jalur Gaza Selatan, (25/1/20240.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Utusan Khusus Rusia untuk Suriah Alexander Lavrentiev mengatakan peristiwa tragis di Jalur Gaza, yang berlangsung sejak 7 Oktober 2023, bisa dipandang sebagai genosida. Ia menyebut apa yang dialami warga Gaza sudah tidak manusiawi.

"Sungguh sebuah kejahatan di mana begitu banyak orang, termasuk perempuan dan anak-anak, meninggal dalam waktu singkat. Ini dapat dipandang sebagai genosida," kata Lavrentiev kepada wartawan dalam konferensi pers usai Pertemuan ke-21 Astana di Kazakhstan, Kamis (25/1/2024).

Baca Juga

Untuk itu, Lavrentiev mendesak Mahkamah Internasional (ICJ) untuk mengevaluasi definisi "genosida" dari perspektif hukum. Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa tindakan Israel, yang seolah dibolehkan, dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat negatif bagi seluruh kawasan Timur Tengah, terutama terhadap negara-negara tetangga Palestina.

photo
Warga Palestina menyusuri jalan yang rusak di kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat, Kamis (25/1/2024). Lebih dari 25.700 warga Palestinia telah syahid akibat gempuran Israel, menurut Palestinian Health Ministry sejak serangan 7 Oktober 2023. - (EPA-EFE/ALAA BADARNEH)

Jika perang terus berlanjut di Jalur Gaza, lanjut Lavrentiev, konflik pasti akan meluas hingga ke Lebanon dan Suriah. Menurutnya, andaikan negara-negara tersebut juga ikut terlibat dalam perang, negara-negara lain di kawasan Timur Tengah juga akan menderita.

"Tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi," kata Lavrentiev.

sumber : Antara, Anadolu
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement