Jumat 02 Feb 2024 15:25 WIB

Menyambung Nyawa di Rumah Sakit Rahasia

Setengah dari 12 pasien di rumah sakit itu terluka akibat ranjau darat.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Korban banjir memasak makanan di dalam biara yang dibuka untuk tempat penampungan sementara di Bago, sekitar 80 kilometer (50 mil) timur laut Yangon, Myanmar, Myanmar, Selasa, 10 Oktober 2023.
Foto: AP Photo/Thein Zaw
Korban banjir memasak makanan di dalam biara yang dibuka untuk tempat penampungan sementara di Bago, sekitar 80 kilometer (50 mil) timur laut Yangon, Myanmar, Myanmar, Selasa, 10 Oktober 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, KAYAH --  Pejuang bersenjata pro-demokrasi Myanmar menyembunyikan fasilitas kesehatan di Negara Bagian Kayah. Pengeboman dari pasukan militer membuat rumah sakit tidak hanya disembunyikan tapi juga dilengkapi tempat perlindungan bom.

Jaringan media Aljazirah mengunjungi salah satu rumah sakit tersembunyi itu pada akhir Desember lalu. Seorang anggota salah satu kelompok antikudeta Myanmar, Pasukan Pertahanan Rakyat Demoso (PDF) mengerang di tempat tidurnya. "Sakit sekali sampai saya tidak bisa tidur," katanya, seperti dikutip dari Aljazirah, Kamis (1/2/2024).

Baca Juga

PDF merupakan kelompok bersenjata pro-demokrasi yang memiliki unit-unit yang tersebar di seluruh negeri. Kaki pejuang itu terluka parah akibat serangan udara di Loikaw, dan dokter mengamputasi salah satu kakinya.

Setengah dari 12 pasien di rumah sakit itu terluka akibat ranjau darat di Moebye, kota di selatan Shan yang sebagian besar dikuasai pemberontak. Militer tampaknya memasang ranjau darat dengan bahan peledak sebelum mundur pada September 2022 lalu.

Seorang wanita berusia 20 tahun yang bekerja sebagai perawat di klinik merupakan seorang perawat magang di Rumah Sakit Loikaw sebelum kudeta. Ia menghabiskan enam bulan sebagai petugas medis garis depan untuk Pasukan Pertahanan Kebangsaan Karenni (KNDF), kelompok bersenjata pascakudeta, sebelum bekerja di rumah sakit itu.

"Saya ingin membantu sebisa mungkin," kata perawat yang menolak menyebutkan namanya. "Tidak ada yang terlalu sulit bagi saya untuk membantu orang, untuk menyelamatkan orang," tambahnya.

Seorang petugas medis KNDF berusia 20 tahun masih berstatus pelajar sekolah menengah saat militer mengambil alih kekuasaan. Ia mengatakan, ia harus bergegas ke medan perang tanpa senjata untuk menarik keluar tentara yang terluka.

"Aturan kami adalah petugas medis, tidak boleh membawa senjata. Saya melihat militer menembak kawan-kawan saya dan saya sangat ingin menembak mereka, tetapi saya tidak bisa," katanya.

Di Kota Loikaw, komandan batalion KNDF yang mengawasi respons medis mengatakan tiga petugas medisnya tewas sejak pemberontak melancarkan serangan untuk merebut ibu kota pada bulan-bulan terakhir tahun lalu. "Mereka mengirim drone untuk menyurvei daerah tersebut dan jika mereka menemukan kami, mereka akan mengirimkan serangan udara, jadi kami harus berpindah-pindah setiap beberapa hari," katanya.

Ia terus berdoa untuk resolusi damai atas krisis ini, tetapi siap untuk berjuang sampai akhir. "Kami selalu berdoa agar mereka berbelas kasih, agar mereka melihat kebenaran dan berpaling kepada kami dan menyerah, tetapi mereka tidak pernah melakukannya," katanya.

Terlepas dari lingkungan yang tidak bersahabat dan menakutkan, Dr Ye yang sebelumnya bekerja di London dan pulang ke Myanmar usai kudeta mengatakan ia menemukan kepuasan dan pemahaman tak terduga di Kayah. "Saya kira, saya tidak tahu banyak tentang semua kesulitan yang terjadi di daerah perbatasan karena saya memilih untuk tidak mengetahuinya," kata Ye.

Selama beberapa dekade, etnis minoritas Myanmar berjuang di bawah pendudukan dan penindasan militer. Sementara daerah mayoritas Bamar jarang mengalami konflik bersenjata. Namun saat ini, pemberontakan terhadap pemerintahan militer mengakar di pusat Bamar, dan banyak pemuda Bamar yang bergabung dengan kelompok-kelompok etnis bersenjata di daerah perbatasan.

Ye mengatakan ia memiliki "harapan besar" akan ada persatuan etnis yang lebih besar setelah revolusi. Ketika ditanya tentang rencananya setelah perang, ia mengatakan ia akan membantu "rehabilitasi" Myanmar.

"Dulu saya memiliki begitu banyak mimpi di London, tetapi saya tidak ingin memikirkannya karena inilah hidup saya sekarang," katanya. "Negara saya membutuhkan saya. Bahkan jika revolusi berakhir besok, saya tidak bisa langsung kembali ke London karena rakyat saya masih membutuhkan saya untuk sementara waktu."

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement