Jumat 09 Feb 2024 21:33 WIB

Cerita Berkesan Jurnalis AS Soal Wawancaranya dengan Vladimir Putin

Rusia adalah negara dengan cadangan nuklir terbesar di dunia.

Presiden Rusia, Vladimir Putin (R) bersama jurnalis AS, Tucker Carlson di Kremlin Moscow, Rusia.
Foto: EPA-EFE/GAVRIIL GRIGOROV
Presiden Rusia, Vladimir Putin (R) bersama jurnalis AS, Tucker Carlson di Kremlin Moscow, Rusia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Vladimir Putin tampak "sangat terluka oleh penolakan Barat" dan marah karena hal itu, kata jurnalis AS Tucker Carlson setelah mewawancarai Presiden Rusia itu.

"Amerika Serikat tidak menyukai Rusia, pemerintah AS tidak menyukai Rusia. Saya pikir, seperti kebanyakan orang Rusia, dia mengira berakhirnya Perang Dingin akan membuka pintu bagi Rusia untuk menjadi bagian dari Eropa, karena ini (Rusia) adalah negara Eropa yang separuh luasnya berada di Asia," kata Carlson lewat video di situs miliknya.

Baca Juga

Menurut dia, Barat menolak Putin dan bertekad untuk tidak bersekutu dengan Rusia, yang menjadi alasan keberadaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Kenyataan itu membuat Putin terluka dan sangat kecewa.

"Matanya berkaca-kaca ketika membicarakan hal itu," kata Carlson.

Dia bercerita bahwa wawancaranya dengan Putin dimulai dengan "sejarah yang sangat terperinci sejak abad ke-9 tentang terbentuknya Rusia dari suku-suku menjadi sebuah bangsa, dan peran Ukraina di dalamnya".

Mantan jurnalis Fox News itu juga menunjukkan map "kuno" tebal berisi dokumen-dokumen yang diberikan oleh sang presiden, yang menyebutnya sebagai "bacaan malam hari".

Carlson menilai Putin "cerdas", tetapi dia juga mengatakan bahwa dia "tidak pandai menjelaskan dirinya sendiri" karena dia "jelas menghabiskan banyak waktu di sebuah dunia di mana dia tidak perlu menjelaskan dirinya sendiri."

"Rusia bukanlah kekuatan ekspansionis" seperti yang digambarkan oleh "semua pembohong dan ideolog" di Departemen Luar Negeri AS, kata Carlson, yang menambahkan bahwa "Anda pasti sangat bodoh jika berpikir seperti itu".

Menurut Carlson, Rusia tidak akan mencaplok Polandia dan merangsek ke Wina, ibu kota Austria, tetapi "hanya ingin perbatasannya aman".

Jurnalis AS itu mengaku terkejut ketika Putin "bersedia mengakui bahwa dia menginginkan perjanjian damai di Ukraina", tetapi dia juga mengatakan bahwa Putin akan "melancarkan perang nuklir" jika AS memasuki Krimea, wilayah semenanjung di Ukraina yang diduduki Rusia sejak 2014.

Carlson mengungkapkan bahwa Washington menginginkan "kepemimpinan yang lemah di Rusia". Dia juga mempertanyakan hal itu, karena memiliki "pemerintah pusat yang lemah dalam negara dengan persediaan nuklir terbesar di dunia adalah hal yang gila".

Wawancara Carlson dengan Putin diunggah pada Kamis malam dan telah dilihat lebih dari 60 juta kali, diunggah ulang lebih dari 180.000 kali, dan disukai lebih dari 500.000 akun di platform di X. Di YouTube, wawancara itu telah ditonton hampir 3 juta orang.

sumber : Antara/Sputnik
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement