Selasa 05 Mar 2024 07:10 WIB

Sekutu Putin: Ukraina Bagian dari Rusia

Medvedev membuang kemungkinan perundingan perdamaian dengan Zelenskyy.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Orang-orang melihat pecahan roket Rusia dan kendaraan militer yang hancur yang dipajang di jalan utama menjelang Hari Kemerdekaan di Kyiv, Ukraina, Senin, (21/8/2023).
Foto: AP Photo/Efrem Lukatsky
Orang-orang melihat pecahan roket Rusia dan kendaraan militer yang hancur yang dipajang di jalan utama menjelang Hari Kemerdekaan di Kyiv, Ukraina, Senin, (21/8/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Deputi ketua Dewan Keamanan Rusia dan sekutu Presiden Vladimir Putin, Dmitry Medvedev mengatakan Ukraina bagian Rusia. Ia juga membuang kemungkinan perundingan damai dengan pemimpin Ukraina.

Dalam pidatonya yang berapi-api di selatan Rusia, Medvedev mengatakan Rusia akan melaksanakan apa yang ia sebut "operasi militer khusus" sampai pihak lain menyerah. Ia mengatakan apa yang ia sebut sebagai bagian dari sejarah Rusia harus "kembali pulang."

Baca Juga

Medvedev berbicara di depan peta Ukraina yang terlihat lebih kecil dari sebenarnya dan tidak terkurung daratan. Dalam peta itu Ukraina terlihat terhimpit Polandia, Rusia yang menguasai wilayah timur dan selatannya serta pesisir Laut Hitam.

"Satu mantan pemimpin Ukraina mengatakan di satu titik Ukraina bukan Rusia," kata Medvedev, Senin (4/3/2024). "Konsep itu harus hilang selamanya. Ukraina jelas Rusia," katanya yang disambut tepuk tangan orang-orang yang hadir.

Ia membuang kemungkinan perundingan perdamaian dengan kepemimpinan Ukraina saat ini yang dipimpin Presiden Volodymyr Zelenskyy. Medvedev mengatakan pemerintahan Ukraina di masa depan yang menginginkan perundingan perlu mengakui apa yang ia sebut sebagai kenyataan baru di lapangan.

Mengenai hubungan Timur dan Barat, Medvedev mengatakan hubungan Moskow dan Washington lebih buruk dibandingkan krisis rudal Kuba 1962. Sebelumnya ia pernah menuduh pasukan khusus dan penasihat militer Amerika Serikat (AS) menggelar perang melawan Rusia

sumber : reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement