REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Para petani Belgia mengganggu lalu lintas di sekitar pelabuhan terbesar kedua di Eropa, Antwerpen, dan dua pelabuhan lainnya. Mereka memprotes apa yang mereka sebut peraturan lingkungan yang berlebihan.
Pada Kamis (14/3/2024) pagi puluhan traktor mengganggu lalu lintas dari dan ke fasilitas pelabuhan. Namun mereka menghindari blokade penuh setelah otoritas pelabuhan memperingatkan petani akan bertanggung jawab secara hukum atas kerugian akibat aksi tersebut.
Para petani dari seluruh 27 negara Uni Eropa memprotes apa yang mereka anggap sebagai birokrasi yang tidak perlu, target udara dan tanah bersih, serta persaingan yang tidak sehat dari luar negeri yang, menurut mereka, membuat mereka bangkrut. Negara-negara Uni Eropa dan para pemerhati lingkungan mengatakan diperlukan perombakan menyeluruh pada pertanian Eropa untuk mengatasi perubahan iklim dan polusi serta memenuhi target ramah lingkungan global.
Petani mengatakan sektor mereka dipilih dengan tidak adil dan mendesak tindakan lebih pada industri yang ditargetkan sebagai gantinya. Pekan lalu, Polandia dilanda unjuk rasa petani dan pendukungnya paling keras. Sejumlah demonstran melempar batu ke polisi dan mencoba untuk mendorong penghalang di sekitar parlemen, beberapa petugas terluka. Bulan lalu petani bentrok dengan polisi di kantor pusat Uni Eropa di Belgia saat menteri pertanian Uni Eropa mencari cara untuk mengatasi kekhawatiran mereka.
Protes traktor memiliki dampak besar pada pengambilan keputusan politik. Pemerintah negara anggota dan Uni Eropa membuat beberapa konsesi dengan petani yang membuat marah para pecinta lingkungan.