Senin 18 Mar 2024 07:21 WIB

Dianggap tak Becus, Netanyahu Didesak Mundur oleh Demonstran Israel

Banyak warga yang kehilangan kesabaran setelah perang berlangsung 163 hari.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara selama sesi pemungutan suara untuk pemakzulan anggota parlemen partai Hadash-Ta'al Ofer Cassif di Yerusalem, (19/2/2024).
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara selama sesi pemungutan suara untuk pemakzulan anggota parlemen partai Hadash-Ta'al Ofer Cassif di Yerusalem, (19/2/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Ribuan pengunjuk rasa mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengundurkan diri. Masyarakat Israel marah mengenai cara pemerintah menangani perang di Gaza dan kegagalan membebaskan sandera Israel yang masih ditawan Hamas.

Saat Kepala Badan Intelijen Israel David Barnea menghadiri perundingan kesepakatan gencatan senjata Gaza di Qatar. Banyak warga Israel yang kehilangan kesabaran setelah perang sudah berlangsung 163 hari.

Baca Juga

"Kami ingin pemerintah menanggapi kami dengan serius dan mundur. Negara kami untuk rakyat dan bukan segelintir kelompok diktator yang berpikir mereka pusat dunia," kata salah pengunjuk rasa di Tel Aviv, Guy Ginat, seperti dikutip dari Aljazirah, Ahad (17/3/2024).

Pengunjuk rasa lainnya Dana Milo mengatakan dibalik setiap sandera yang masih menderita di tawanan Hamas terdapat orang-orang terdekat. "Yang tidak tidur, makan dan tidak bisa bernapas," katanya.

Pengunjuk rasa menuduh Netanyahu membatalkan rapat kabinet perang yang bertujuan menetapkan mandat pada tim negosiasi Israel. Namun kantor perdana menteri Israel ini, membantahnya dan mengatakan kabinet menggelar rapat pada Ahad (17/3/2024). 

Aljazirah melaporkan pengunjuk rasa mengatakan mereka sudah muak dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang gagal mengamankan sisa sandera yang masih ditahan. Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan setidaknya 31.645 warga Palestina tewas dan 73.676 lainnya luka-luka dalam serangan Israel di Gaza.

Israel mengklaim dalam serangan mendadak pada 7 Oktober lalu Hamas membunuh sekitar 1.200 orang menculik sekitar 250 lainnya. Sekitar 100 sandera dibebaskan dalam gencatan senjata satu pekan pada akhir November lalu. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement