Selasa 19 Mar 2024 08:50 WIB

Diisi Kontoversi, Kemenangan Putin Tuai Berbagai Respons

Xi Jinping dan Putin akan terus mempertahankan pertukaran yang erat.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Orang-orang berdiri di depan layar dengan hasil awal pemilihan presiden di Komisi Pemilihan Umum Pusat di Moskow, Rusia, (17/3/2024).
Foto: EPA-EFE/MAXIM SHIPENKOV
Orang-orang berdiri di depan layar dengan hasil awal pemilihan presiden di Komisi Pemilihan Umum Pusat di Moskow, Rusia, (17/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, Presiden Rusia Vladimir Putin memenangkan pemilihan presiden akan kembali berkuasa selama enam tahun mendatang. Hasil yang diunggah pada Ahad (17/3/2024)) menunjukkan Putin menang telak dengan mengumpulkan 87,8 persen suara.

Kemenangan ini menimbulkan berbagai reaksi dari seluruh dunia. Dikutip dari Aljazirah, Senin (18/3/2024) berikut tanggap beberapa negara mengenai kemenangan Putin.

Baca Juga

Cina

Beijing mengucapkan selamat kepada Putin, dengan mengatakan "Cina dan Rusia merupakan tetangga terbesar satu sama lain dan mitra kerja sama strategis yang komprehensif di era baru".

Juru bicara kementerian luar negeri Lin Jian mengatakan Presiden Xi Jinping dan Putin "akan terus mempertahankan pertukaran yang erat, memimpin kedua negara untuk terus menjunjung tinggi persahabatan bertetangga yang sudah berlangsung lama, memperdalam koordinasi strategis yang komprehensif".

Iran

Media Pemerintah Iran melaporkan Presiden Ebrahim Raisi mengucapkan selamat kepada mitranya dari Rusia atas kemenangannya yang 'menentukan.' "Dalam sebuah pesan dengan tulus Presiden Republik Islam Iran mengucapkan selamat kepada Vladimir Putin atas kemenangannya yang menentukan dan pemilihannya kembali sebagai Presiden Federasi Rusia," kantor berita negara IRNA melaporkan.

Venezuela

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan: "Kakak laki-laki kami telah menang, yang merupakan pertanda baik bagi dunia."

Bosnia dan Herzegovina

Presiden Republika Srpska Milorad Dodik yang pro-Rusia mengatakan: "Rakyat Serbia menyambut dengan sukacita kemenangan Presiden Putin karena mereka melihat dalam dirinya seorang negarawan besar dan seorang teman yang selalu bisa kami andalkan dan yang akan menjaga rakyat kami".

Amerika Serikat

"Pemilu ini jelas tidak bebas dan tidak adil mengingat bagaimana Putin memenjarakan lawan-lawan politiknya dan mencegah orang lain untuk mencalonkan diri," kata juru bicara Dewan Keamanan Gedung Putih.

Uni Eropa

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell bersikeras pemilu ini tidak "bebas dan adil" karena oposisi benar-benar dihancurkan dan tidak ada pengamat internasional yang hadir. "Pemilu ini didasarkan pada penindasan dan intimidasi," kata Borrell.

Ukraina

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menolak hasil pemilu tersebut sebagai hasil yang tidak sah. "Semua orang di dunia memahami bahwa orang ini, seperti banyak orang lain sepanjang sejarah, tidak akan berhenti untuk berkuasa selamanya," katanya.

"Tidak ada kejahatan yang tidak akan dia lakukan untuk mempertahankan kekuasaan pribadinya. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang akan terlindungi dari hal ini."

Jerman

"Pemilu semu di Rusia tidak bebas dan tidak adil, hasilnya tidak akan mengejutkan siapa pun. Pemerintahan Putin otoriter, ia mengandalkan sensor, penindasan dan kekerasan. "Pemilu" di wilayah-wilayah yang diduduki Ukraina batal demi hukum dan merupakan pelanggaran hukum internasional," kata kementerian luar negeri Jerman dalam sebuah posting di media sosial.

Inggris

Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron mengatakan pemilu "ilegal" tersebut menampilkan "kurangnya pilihan bagi para pemilih dan tidak ada pemantauan independen dari OSCE," dan menambahkan: "Ini bukanlah pemilu yang bebas dan adil."

Italia

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mengatakan 'pemilihan umum tersebut tidak bebas dan tidak adil'. "Kami terus bekerja untuk perdamaian yang adil yang akan membuat Rusia mengakhiri perang agresi terhadap Ukraina, sesuai dengan hukum internasional."

Republik Ceko

Menteri Luar Negeri Ceko Jan Lipavsky menyebut pemilu tersebut sebagai "lelucon dan parodi". Ia mengatakan: "Ini adalah pemilihan presiden Rusia yang menunjukkan bagaimana rezim ini menekan masyarakat sipil, media independen, dan oposisi."

India

Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan berharap dapat meningkatkan hubungan dengan Moskow untuk mengembangkan hubungan 'khusus' mereka.

"Berharap untuk bekerja sama untuk lebih memperkuat Kemitraan Strategis Khusus dan Istimewa yang telah teruji antara India dan Rusia di tahun-tahun mendatang," tulis Modi di X. 

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement