Rabu 17 Apr 2024 17:07 WIB

Untuk Isolasi Ekonomi, AS akan Jatuhkan Sanksi Baru ke Iran

Tindakan Iran dianggap menggangu stabilitas di Timur Tengah.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Menteri Keuangan Janet Yellen menyampaikan pidato pembukaan pada pertemuan para menteri keuangan, sebagai bagian dari KTT APEC, Senin, 13 November 2023, di San Francisco.
Foto: AP Photo/Eric Risberg
Menteri Keuangan Janet Yellen menyampaikan pidato pembukaan pada pertemuan para menteri keuangan, sebagai bagian dari KTT APEC, Senin, 13 November 2023, di San Francisco.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen memperingatkan dalam beberapa hari ke depan AS akan menjatuhkan sanksi baru ke Iran. Hal ini dilakukan, sebagai respon atas serangan balasan Iran ke Israel pada akhir pekan lalu. Yellen mengatakan sanksi terbaru akan mengurangi kapasitas ekspor minyak Iran.

"Sehubungan dengan sanksi, saya sepenuhnya berharap kami akan menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Iran dalam beberapa hari ke depan," kata Yellen dalam konferensi pers di sela pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia di Washington, Selasa (16/4/2024).

Baca Juga

"Kami tidak mengulas instrumen sanksi kami. Tapi, dalam pembahasan yang saya lakukan, semua opsi untuk mengganggu pendanaan teroris Iran akan tetap ada di atas meja," tambahnya.

Ia mengatakan, Departemen Keuangan dan Luar Negeri AS sudah pernah mengambil tindakan untuk menahan perilaku "de-stabilisasi" Iran dengan mengurangi kemampuannya untuk mengekspor minyak.

"Jelas, Iran akan terus mengekspor sejumlah minyak. Mungkin lebih banyak dari yang dapat kami lakukan. Saya tidak ingin mengulas aktivitas sanksi aktual kami, tapi jelas masih menjadi fokus sebagai area yang mungkin dapat kami tangani," kata Yellen.

Seorang pejabat departemen keuangan AS mengatakan departemen berupaya meminta bantuan Cina, mitra-mitra G7 dan pemasok global lainnya untuk menurunkan kemampuan Iran mengekspor minyaknya dan mendapatkan lebih banyak perangkat elektronik mikro untuk drone yang digunakan menyerang Israel dan dijual ke Rusia.

Pejabat itu mengatakan kenaikan harga minyak sebagian besar disebabkan ketidakpastian geopolitik bukan sanksi-sanksi AS. Ia mencatat sanksi-sanksi sebelumnya tidak menaikan harga minyak dunia.

"Kami akan berbicara dengan pemasok besar di seluruh dunia. Termasuk negara-negara G7, termasuk Cina. Semua negara-negara ini harus memainkan peran dalam menahan kemampuan Iran mengakses barang-barang yang mereka gunakan untuk membangun senjata," kata pejabat itu.

Dalam sambutannya Yellen mengatakan serangan balasan Iran ke Israel akhir pekan lalu dan pendanaannya pada kelompok-kelompok milisi di Gaza, Lebanon, Yaman dan Irak mengancam stabilitas Timur Tengah dan dapat berdampak pada ekonomi.

Yellen mengatakan, AS menggunakan sanksi-sanksi finansial untuk mengisolasi Iran dan mengganggu kemampuannya mendanai kelompok-kelompok proksi dan mendukung perang Rusia di Ukraina. Ia menambahkan, sejak pemerintahan Presiden AS Joe Biden berkuasa pada Januari 2021 lalu, Departemen Keuangan sudah menargetkan lebih dari 500 individu dan entitas yang memiliki hubungan dengan terorisme dan pendanaan teroris yang dilakukan rezim Iran dan proksinya.

Yellen mengatakan, itu termasuk yang menargetkan program rudal dan drone Iran dan pendanaannya pada Hamas di Gaza, Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon dan kelompok-kelompok milisi di Irak. "Dari serangan akhir pekan ini sampai serangan Houthi di Laut Merah, tindakan Iran mengancam stabilitas kawasan dan dapat berdampak buruk perekonomian," kata Yellen.

Pada Ahad (14/4/2024) Iran meluncurkan lebih dari 300 drone dan rudal jelajah dan balistik ke Israel sebagai balasan serangan udara Israel ke kantor konsulat Iran di Suriah yang menewaskan tujuh perwira termasuk dua jenderal Garda Revolusi pada 1 April lalu.

Israel mengatakan mereka menembak jatuh hampir semua tembakan drone dan rudal Iran dan tidak ada korban tewas dalam serangan tersebut. Namun serangan itu membuka resiko perang terbuka antara dua negara yang sudah lama bermusuhan.

Serangan ini berkaitan dengan serangan Israel ke Gaza sejak enam bulan yang lalu. Kementerian kesehatan Gaza mengatakan lebih dari 33.800 orang Palestina tewas dalam serangan-serangan Israel.

Yellen mengatakan, Washington akan melanjutkan penggunaan alat ekonomi untuk menekan Hamas. Namun ia mengatakan sanksi-sanksi itu tidak akan berdampak pada bantuan yang dapat menyelamatkan nyawa.

Ia menyerukan tindakan untuk mengakhiri penderitaan Palestina di kantong pemukiman itu. Yellen mencatat seluruh penduduk Gaza yang berjumlah lebih dari dua juta orang menghadapi kerawanan pangan yang akut dan sebagian besar penduduknya terpaksa mengungsi.

"Adalah kewajiban kita semua di sini pada pertemuan-pertemuan ini untuk melakukan segala sesuatu dengan kekuatan kita untuk mengakhiri penderitaan ini," katanya. Yellen mencatat Washington juga menggunakan sanksi-sanksi yang mengincar pemukim ilegal di Tepi Barat, sambil bekerja untuk memastikan sistem perbankan yang berfungsi di sana dan mendukung program-program IMF di Yordania dan Mesir.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement