Jumat 03 May 2024 14:13 WIB

AS Desak Cina dan Rusia tak Libatkan Kecerdasan Buatan dalam Urusan Senjata Nuklir

Prancis dan Inggris juga telah menyepakati hal serupa.

Rep: Lintar Satria/ Red: Setyanavidita livicansera
Petugas beraktivitas di area Reaktor Nuklir Triga 2000 di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8/2023). Reaktor nuklir Triga Mark II atau Triga 2000 yang ada di BRIN Bandung merupakan reaktor nuklir tertua di Indonesia yang dioperasikan sejak tahun 1965 dan saat ini dimatikan hingga empat tahun ke depan. Reaktor yang memiliki kapasitas 2000 KWt tersebut digunakan untuk keperluan penelitian, pengkajian lingkungan dan wisata edukasi.
Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Petugas beraktivitas di area Reaktor Nuklir Triga 2000 di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (3/8/2023). Reaktor nuklir Triga Mark II atau Triga 2000 yang ada di BRIN Bandung merupakan reaktor nuklir tertua di Indonesia yang dioperasikan sejak tahun 1965 dan saat ini dimatikan hingga empat tahun ke depan. Reaktor yang memiliki kapasitas 2000 KWt tersebut digunakan untuk keperluan penelitian, pengkajian lingkungan dan wisata edukasi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pejabat senior Amerika Serikat (AS) mendesak Cina dan Rusia mengikuti deklarasi AS dan negara-negara lain untuk memastikan hanya manusia dan bukan kecerdasan artifisial, yang dapat memutuskan penggunaan senjata nuklir.

Deputi Asisten Menteri Luar Negeri AS Biro Pengendalian Senjata Paul Dean mengatakan Washington menyampaikan "komitmen yang jelas dan tegas" senjata nuklir sepenuhnya dikendalikan manusia. Ia menambahkan Prancis dan Inggris juga membuat komitmen serupa. "Kami juga akan menyambut baik pernyataan serupa dari Cina dan Federasi Rusia," katanya dalam pengarahan daring, Rabu (1/5/2024).

Baca Juga

"Kami pikir norma perilaku bertanggung jawab sangat penting dan kami pikir itu sesuatu yang akan disambut baik dalam konteks P5," kata Dean merujuk lima anggota permanen Dewan Keamanan PBB. Pernyataan ini disampaikan saat pemerintah Presiden AS Joe Biden mencoba memperdalam diskusi terpisah dengan Cina mengenai kebijakan senjata nuklir dan pertumbuhan kecerdasan artifisial.

Kementerian pertahanan Cina belum menanggapi permintaan komentar. Penyebaran teknologi kecerdasan artifisial muncul dalam pembicaraan antara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi di Beijing pada tanggal 26 April lalu.

Blinken mengatakan kedua belah pihak sepakat untuk mengadakan pembicaraan bilateral pertama mereka tentang kecerdasan artifisial dalam beberapa pekan mendatang. Ia menambahkan mereka akan berbagi pandangan tentang cara terbaik untuk mengelola risiko dan keamanan seputar teknologi tersebut.

Sebagai bagian dari normalisasi komunikasi militer, para pejabat AS dan Cina melanjutkan diskusi senjata nuklir pada Januari lalu. Tetapi negosiasi resmi mengenai pengendalian senjata diperkirakan belum akan dilakukan dalam waktu dekat.

PadFebruari lalu Cina, yang sedang memperluas kemampuan senjata nuklirnya, mendesak negara-negara nuklir terbesar harus terlebih dahulu merundingkan perjanjian larangan penggunaan senjata nuklir di antara mereka satu sama lain

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement