Senin 06 May 2024 09:50 WIB

Salah Tembak, IDF Jatuhkan 40 Persen Drone Mereka Sendiri

Proporsi salah tembak pasukan Israel termasuk yang tertinggi di dunia.

Tentara Israel meluncurkan drone di dekat perbatasan Israel-Gaza, Israel selatan, Senin, 15 April 2024.
Foto: AP Photo/Ohad Zwigenberg)
Tentara Israel meluncurkan drone di dekat perbatasan Israel-Gaza, Israel selatan, Senin, 15 April 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Pasukan Penjajahan Israel (IDF) mengeklaim mempunyai salah satu sistem pertahanan udara terintegrasi tercanggih di dunia. Belakangan muncul keraguan terkait klaim itu terkait temuan bahwa 40 persen drone yang ditembak jatuh tentara Israel ternyata milik mereka sendiri.

The War Zone (TWZ) baru-baru ini melaporkan bahwa IDF menembak jatuh sejumlah besar drone miliknya selama operasi. Mereka mengutip seorang pejabat Korps Marinir AS Letkol Marinir Michael Pruden, IDF menghancurkan 40 persen sistem udara tak berawak (UAS) miliknya.

Baca Juga

“Fakta yang menarik yang datang dari Israel, 40 persen, 40 persen (angka ini diulangi untuk penekanan), dari drone … yang dihancurkan oleh Israel adalah milik mereka sendiri,” kata Pruden dalam sebuah pembicaraan di acara tahunan Modern Eksposisi Hari Kelautan pada Rabu pekan lalu, dilansir Jerusalem Post, Senin (6/5/2024).

Dia tidak memberikan rincian tambahan apa pun tentang statistik ini, termasuk jangka waktunya, menurut TWZ. Namun, dia menyiratkan bahwa data ini berasal dari operasi di Jalur Gaza dalam perang melawan Hamas saat ini.

Saat membahas kemungkinan alasan jatuhnya sejumlah drone itu, Pruden mengatakan, "Saat Israel terlibat di Gaza, dan mereka berada di garis depan, mereka melihat drone kecil; apa yang akan mereka lakukan jika tidak teridentifikasi segera? Mereka akan menembak jatuh."

Pruden mengklarifikasi bahwa IDF sebelumnya juga telah mengakui jatuhnya drone mereka secara tidak sengaja. Karena IDF mempunyai salah satu sistem pertahanan udara terintegrasi tercanggih di dunia, jika hal ini menjadi masalah bagi militer Israel, kemungkinan besar hal ini juga akan menjadi masalah bagi militer lain di seluruh dunia. Pejabat Marinir AS menyoroti masalah komunikasi terkait di militer AS. “Bagaimana saya bisa menempatkan drone kecil di langit, ribuan benda-benda ini, dan tidak memberitahu siapapun tentang hal itu, terutama pertahanan udara berbasis darat dan [elemen] kontra-drone?”

Laporan tersebut menambah panjang catatan ketidakbecusan tentara IDF di lapangan. Sebelumnya, investigasi terhadap kematian tragis dua tentara cadangan IDF di Jalur Gaza tengah pada Ahad pekan lalu mengungkapkan bahwa mereka adalah korban tembakan teman sendiri. Sersan Staf (res.) Ido Aviv dari Batalyon 9232 Brigade Yiftah, dan Sersan Staf (res.) Kalkidan Meharim dari Batalyon 223 Brigade Carmeli, terkena tembakan peluru dari tank IDF yang telah menembak di luar batas yang ditentukan.

Insiden itu terjadi ketika sebuah tank IDF terkena bom pinggir jalan di dekat rumah sakit Turki di koridor Netzarim. Selanjutnya, mortir dan rudal anti-tank diluncurkan ke arah pasukan di area koridor. Selama baku tembak dengan pejuang Hamas, sebuah tank dari Brigade Yiftah meninggalkan perkemahannya dan menembaki sebuah bangunan di daerah tersebut, yang kemudian diketahui berisi pasukan mereka sendiri.

Januari lalu, IDF melansir banyak yentara Israel tewas dalam serangan udara yang dilakukan pesawat Israel dan pecahan peluru dari bahan peledak mereka sendiri. Beberapa diantaranya tertabrak kendaraan lapis baja Israel atau salah diidentifikasi dan terkena tembakan tank, penembakan dan senjata, menurut laporan yang dirilis oleh IDF awal bulan ini. 

Hampir seperlima kematian Israel sejak invasi Gaza pada akhir Oktober disebabkan oleh tembakan atau kecelakaan, yang menyebabkan 36 dari 188 tentara tewas pada saat laporan ini dibuat. Para ahli mengatakan ini adalah salah satu persentase tertinggi dalam sejarah militer baru-baru ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement