Ahad 12 May 2024 19:54 WIB

Zelenskyy Pede Mampu Hentikan Rusia Setelah Terima Senjata Baru

Moskow juga telah menambah pasukannya di utara dan timur.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.
Foto: AP Photo/Petr David Josek
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy.

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Kamis (9/5/2024) mengatakan, negaranya dapat menghentikan serangan Rusia di timur saat ini setelah negara tersebut menerima pengiriman senjata baru yang disediakan oleh Barat. "Dengan peningkatan pasokan senjata, kami akan mampu menghentikan mereka (Rusia) di wilayah timur. Mereka memiliki inisiatif di sana sekarang. Ini bukan rahasia," kata Zelenskyy dalam konferensi pers bersama dengan Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola di Kiev.

"Kita perlu menghentikan mereka dan mengambil inisiatif sendiri. Hal ini hanya dapat dilakukan jika Anda memiliki sesuatu yang kuat di tangan Anda," tambahnya. Menyatakan, Kiev akan mampu menghentikan inisiatif Rusia di garis depan di Ukraina timur segera setelah negara tersebut menerima pengiriman senjata, yang menurutnya, saat ini tidak berada pada tingkat yang mereka harapkan.

Baca Juga

Zelenskyy mengatakan, Moskow sebaliknya telah menambah pasukannya di utara dan timur negara itu. Bulan lalu, Presiden AS Joe Biden menandatangani rancangan undang-undang bantuan senilai 60,8 miliar dolar Amerika Seerikat (AS) atau sekitar Rp 975 triliun, ke Ukraina menjadi undang-undang ketika negara itu terus melawan Moskow di tengah perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung sejak Februari 2022.

Zelenskyy juga menyinggung, KTT Perdamaian Global yang akan datang di Swiss pada Juni, dengan mengatakan bahwa KTT tersebut penting karena jika hukum internasional dan mayoritas dunia berhasil untuk Ukraina, mereka akan mampu berupaya untuk memulihkan perdamaian bagi "semua orang".

"Itulah sebabnya (Presiden Rusia Vladimir) Putin mencoba untuk mengganggunya - dia akan melakukannya dengan mencoba meningkatkan tekanan di garis depan, memulai tindakan serangan baru, dan dengan berbagai manipulasi dalam politik, dan dengan upaya untuk memecah belah masyarakat internasional," ujarnya.

Dia melanjutkan, Putin "sangat takut" dengan pertemuan puncak tersebut dan kemungkinan bahwa mayoritas dunia akan mulai memaksa Rusia untuk berdamai. "Itulah mengapa kita memerlukan posisi yang jelas dari setiap negara, setiap pemimpin, setiap organisasi internasional mengenai partisipasi dalam KTT Perdamaian, mengenai dukungan terhadap upaya pembangunan perdamaian bersama kita," tambahnya.

Pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan mereka akan menyelenggarakan pertemuan puncak mengenai Ukraina pada 15-16 Juni di resor Burgenstock di wilayah Nidwalden di luar Kota Lucerne, dan telah mengundang lebih dari 160 delegasi dari seluruh dunia.

KTT tersebut akan mencakup diskusi mengenai 10 poin formula Zelenskyy yang dituangkan pada KTT G20 tahun 2022 di Indonesia, dengan langkah terakhirnya adalah penandatanganan perjanjian perdamaian. Hal tersebut juga berfokus pada isu-isu seperti keselamatan nuklir dan keamanan pangan dan energi.

sumber : Antara, Anadolu
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement