Rabu 15 May 2024 06:39 WIB

Otoritas Palestina: 80 Persen Pusat Kesehatan Gaza Berhenti Beroperasi

Dunia internasional diminta lakukan intervensi selamatkan sistem kesehatan Gaza.

Rep: Lintar Satria/ Red: Gita Amanda
Penampakan Rumah Sakit Anak Al Nasr yang hancur total di Kota Gaza, (ilustrasi)
Foto: Karam Hassan/Anadolu via Reuters
Penampakan Rumah Sakit Anak Al Nasr yang hancur total di Kota Gaza, (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Menteri Kesehatan Otoritas Palestina Majed Abu Ramadan mengatakan tanggung jawab hancurnya layanan kesehatan Jalur Gaza dapat dijatuhkan pada Israel yang terus menggelar serangan ke kantong pemukiman tersebut. Abu Ramadan juga meminta masyarakat internasional melakukan intervensi untuk menyelamatkan sistem kesehatan di Jalur Gaza.

Dikutip dari Aljazirah, Selasa (14/5/2024) lalu, ia mengatakan Otoritas Palestina seang berusaha mengirimkan tim medis ke Gaza untuk mengobat "kasus-kasus sulit." Sebab Israel menolak mengizinkan sejumlah warga Palestina yang terluka dan sakit meninggalkan Jalur Gaza untuk menjalani pengobatan.

Baca Juga

Sementtara itu badan amal Inggris, Save the Children mengeluarkan pernyataan yang berisi laporan dari seorang stafnya di Gaza yang menggambarkan kondisi mengerikan yang dihadapi penduduk Rafah yang terpaksa mengungsi.

"Ini kelima kalinya kami dipaksa pindah, mengikuti perintah relokasi terbaru. Awalnya kami dipindahkan dari Gaza ke Khan Younis, kemudian ke daerah lain di Rafah dan sekarang ke Deir el-Balah. Ini menghancurkan mental kami," kata staf Save the Children itu.

"Saya bersama putra saya, dan ibu saya yang berusia 70 tahun. Saat kami mulai terbiasa dengan tempat baru, kami dipaksa pindah lagi. Ibu saya memiliki diabetes dan tekanan darah tinggi. Ia kekurangan obat-obatan yang ia butuhkan tapi kami tidak menemukannya di mana-mana."

"Rasanya kami dibunuh pelan-pelan. Anak-anak kami kehilangan kehidupan mereka, pendidikan mereka, mereka mengalami ketidakstabilan, dipaksa mengungsi, takut. Saya tidak bisa menjelaskan apa rasanya hidup seperti ini untuk kelima kalinya. Kami membayar harga perang yang tidak ada hubungannya dengan kami," tambah staf Save the Children itu. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement