Selasa 25 Apr 2017 10:38 WIB

Keraguan Ideologi Ekstrem Kanan Le Pen

Rep: Crystal Liestia Purnama/ Red: Ani Nursalikah
Kandidat presiden sayap kanan Prancis Marine Le Pen.
Foto: AP Photo/Kamil Zihnioglu
Kandidat presiden sayap kanan Prancis Marine Le Pen.

REPUBLIKA.CO.ID,  PARIS -- Marine Le Pen dikenal sebagai pemimpin partai National Front (FN) yang merupakan penganut ideologi ekstrem kanan. Namun beberapa pihak meragukan ideologi nasionalis Le Pen.

Secara tegas Le Pen memang menentang imigrasi. Akan tetapi tidak ada petunjuk lebih jauh darinya tentang ideologi ekstrem kanan yang melekat pada anggota generasi ayahnya, Jean-Marie Le Pen.

Menurut Laurent Joffrin dari Liberation, pandangan Le Pen bersifat ekletik dan oportunistik. "Kaum nasionalis memang selalu seperti itu, apa pun untuk negara ini benar. Jadi dalam autobiografinya pada 2005 dia berdebat tentang (aturan jam kerja) 35 jam per pekan, tapi sekarang dia mendukungnya," katanya.

Bahkan ide FN yang ingin memperbaiki usia pensiun 60 tahun dapat dipertukarkan dengan yang paling kiri. Pengaruh generasinya adalah kunci. Seorang mantan penasihat Le Pen yang enggan disebutkan namanya mengatakan jika muncul sebuah pertanyaan (tentang suatu masalah), maka refleks pertama yang muncul dari Le Pen adalah refleks dari kiri.

"Dia tidak memiliki refleks sayap kanan. Bagi saya, orang-orang sayap kanan menghargai kebebasan atas persamaan. Dan orang-orang sayap kiri justru sebaliknya. Nah, Marine selalu memilih persamaan atas kebebasan," ujarnya.

Yang paling terasa, secara masalah sosial Le Pen berada satu juta mil dari gambaran tradisionalis sayap kanan. Dia menolak bergabung dengan pernikahan sejenis. Kemudian pada 2013 jutaan orang turun ke jalan untuk memprotesnya.

Menurut BBC, ia diketahui memiliki beberapa penasihat gay, terutama Florian Philippot. Kemudian, asisten Jean-Marie yang sudah lama mengabdi juga seorang gay.

Selain itu, Marine Le Pen seorang religius dengan cara yang longgar, namun pendapat dia tajam dalam bukunya tentang penerjemah literalis Katolik. Dia sudah dua kali bercerai dan dengan marah membela hak perempuan atas aborsi, meskipun dia menganggapnya sebagai keadaan terpaksa yang menyedihkan.

Baca: Imam Besar Masjid Agung Paris Dukung Macron

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement