Selasa , 14 November 2017, 05:49 WIB

Tentara Korut Tembak Prajurit Saat Membelot ke Korsel

Rep: umar mukhtar/ Red: Ani Nursalikah
EPA/Jeon Heon-Kyun/Poo
Seorang tentara Korea Utara melihat Desa Panmunjom di Paju, Korea Selatan yang berbatasan dengan Korut melalui teropong.
Seorang tentara Korea Utara melihat Desa Panmunjom di Paju, Korea Selatan yang berbatasan dengan Korut melalui teropong.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Seorang prajurit ditembak oleh penjaga keamanan Korea Utara (Korut). Dia ditembak dan dilukai oleh pasukannya sendiri karena membelot ke Korsel.

Untungnya dia berhasil melarikan diri kemudian lolos melintasi perbatasan kedua negara yang penuh dengan persenjataan. Kini ia sudah berada di wilayah Korea Selatan (Korsel).

Pejabat Kementerian Pertahanan Korsel menuturkan bahu dan siku prajurit itu kena tembak. Prajurit ini tidak bersenjata dan diketahui ditembak pada Senin (13/11) siang waktu setempat. Dia ditembak saat membuat penawaran kepada pihak Korsel di areal keamanan bersama yang menjadi bagian dari zona demiliterisasi (DMZ).
 
"Karena di sana adalah daerah yang terpapar ke Utara, kami harus merangkak menuju ke sana untuk mengeluarkannya," ujar dia seperti dilansir dari The Guardian, Senin (13/11).
 
Seusai mendengar suara tembakan dari wilayah Korut, tentara Korsel menemukan pembelot Korut itu sekitar 50 meter di sebelah selatan Desa Panmunjom. Prajurit tersebut kemudian diterbangkan ke rumah sakit dengan helikopter PBB. Saat itu tidak terjadi baku tembak antara kedua belah pihak.
 
Kepala staf gabungan Korea Selatan dalam sebuah keterangannya mengatakan upaya prajurit tersebut untuk menyeberangi perbatasan dimulai saat dia melesat dari sebuah pos pengawal di sisi utara Desa Panmunjom ke sisi selatan desa.
 
Pihak berwenang Korsel belum merilis nama atau pangkatnya. Namun seragam yang dikenakan prajurit tersebut menandakan dirinya sebagai anggota militer berpangkat rendah dari 1,2 juta prajurit Korut. Belum jelas seberapa serius luka-lukanya atau mengapa dia memutuskan bertindak demikian.
 
Areal keamanan bersama seluas 155 mil tersebut telah membagi semenanjung sejak perang Korea yang berakhir pada 1953 dengan gencatan senjata tapi bukan perjanjian damai. Di sini, penjaga keamanan dari kedua negara berdiri beberapa meter satu sama lain.
 
Sebagian besar dari 30 ribu orang di mana 70 persennya perempuan, telah membelot dari Korut sejak berakhirnya perang Korea dengan menyeberang ke Cina sebelum pindah ke negara ketiga untuk mendapatkan tiket ke Korsel.