Selasa , 14 November 2017, 13:28 WIB

Menlu AS Mendadak Temui Menlu Retno, Ini yang Dibahas

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Teguh Firmansyah
Antara/Puspa Perwitasari
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Rex W. Tillerson secara mendadak menemui Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (RI) Retno Marsudi di Hotel Sofitel, Manila, Filipina, di sela-sela kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang digelar di Philippines International Convention Center (PICC), Selasa (14/11).

Tillerson meminta masukan terkait kondisi di Myanmar kepada Menlu Retno Marsudi, sebelum dirinya bertolak ke negara tersebut. “Beliau akan segera berkunjung ke Nay Pyi Taw, Myanmar, besok. Jadi ke sini untuk bertukar informasi mengenai kondisi sekarang ini  di Myanmar,” kata Retno dilansir laman Setkab.go.id.

Retno menuturkan, pertemuannya dengan Tillerson membahas isu mengenai situasi krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar. Tillerson menanyakan kemajuan kondisi sosial di daerah tersebut, dan langkah apa yang harus dilakukan Pemerintah AS guna mendorong penyelesian masalah tersebut.

Pemerintah AS, lanjut Retno, berkeinginan ikut serta membantu penyelesaian krisis kemanusiaan di Rakhine secara konstruktif. AS menilai jika krisis tersebut tidak dapat diselesaikan selain akan mengganggu stabilitas dan keamanan kawasan, juga ada kekhawatiran ancaman radikalisme dan terorisme juga akan meningkat.

Reto menuturkan, Menlu AS Rex W. Tillerson sendiri menilai bahwa peran dari kawasan dalam hal ini ASEAN sangat penting. Dia pun mengapresiasi negara di kawasan ini, termasuk Indonesia yang memiliki tekad dalam menyelesaikan krisis tersebut. “Intinya itu pembicaraan dalam pertemuan tadi. Kita janji akan berkomunikasi kembali setelah Rex kembali dari Nay Pyi Taw,” paparnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menyampaikan keprihatinannya atas terjadinya krisis kemanusiaan di Rakhine State, Myanmar. Dia mengingatkan bahwa ASEAN tidak dapat berdiam diri atas terjadinya krisis tersebut, karena krisis ini tidak saja menjadi perhatian negara-negara anggota ASEAN namun juga dunia.

“Kita harus bergerak bersama. Myanmar tidak boleh tinggal. ASEAN juga tidak boleh tinggal diam,” kata Jokowi saat berbicara pada Pleno KTT ke-31 ASEAN yang diselenggarakan di Philippines International Convention Center (PICC), Manila, Filipina, Senin (13/11).