Sabtu 03 Sep 2022 06:25 WIB

AS Berpotensi Jual Peralatan Militer 1,1 Miliar Dolar AS ke Taiwan

Penjualan tersebut termasuk 60 rudal anti-kapal dan 100 rudal udara-ke-udara.

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah
 ARSIP - Tentara Taiwan mengoperasikan senjata antipesawat meriam kembar 35mm Oerlikon di sebuah pangkalan di daerah Hualien tenggara Taiwan pada Kamis, 18 Agustus 2022. Para ahli mengatakan banyak yang dapat diperoleh dari apa yang telah dilakukan dan tidak dilakukan China di latihan militer skala besar yang diadakan sebagai tanggapan atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan, diikuti oleh latihan Taiwan sendiri dan Beijing mengumumkan lebih banyak manuver yang direncanakan.
Foto: AP/Johnson Lai, File
ARSIP - Tentara Taiwan mengoperasikan senjata antipesawat meriam kembar 35mm Oerlikon di sebuah pangkalan di daerah Hualien tenggara Taiwan pada Kamis, 18 Agustus 2022. Para ahli mengatakan banyak yang dapat diperoleh dari apa yang telah dilakukan dan tidak dilakukan China di latihan militer skala besar yang diadakan sebagai tanggapan atas kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan, diikuti oleh latihan Taiwan sendiri dan Beijing mengumumkan lebih banyak manuver yang direncanakan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui potensi penjualan peralatan militer senilai 1,1 miliar dolar AS ke Taiwan. Pentagon menyatakan pada Jumat (2/9), penjualan tersebut termasuk 60 rudal anti-kapal dan 100 rudal udara-ke-udara.

Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan Pentagon mengatakan, Rudal Sidewinder dan peralatan terkait juga ikut dalam bagian penjualan dengan biaya sekitar 85,6 juta dolar AS. Ditambah juga Rudal Harpoon dan peralatan terkait dengan biaya sekitar 355 juta dolar AS dan dukungan untuk program radar pengawasan Taiwan dan peralatan terkait dengan perkiraan biaya 665.4 juta dolar AS.

Baca Juga

Paket itu diumumkan setelah latihan militer agresif China di sekitar Taiwan menyusul kunjungan Ketua House of Representatives AS Nancy Pelosi ke pulau itu pada bulan lalu. Momen ini menjadi kunjungan pertama pejabat tertinggi AS yang melakukan perjalanan ke Taipei selama bertahun-tahun.

Perintah itu pun mencerminkan dukungan berkelanjutan untuk Taiwan dari pemerintahan Presiden AS Joe Biden saat menghadapi tekanan dari China. Beijing telah menyatakan, tidak pernah mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk membawa pulau yang diperintah secara demokratis itu berada di bawah kendalinya.

Sedangkan Taipei mengatakan, Beijing tidak pernah menguasai pulau itu. Kondisi itu yang membuat Cina tidak memiliki hak untuk mengklaim Taiwan.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement