Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

24 Orang Dilaporkan Meninggal Akibat Cuaca Ekstrem di AS

Ahad 03 Feb 2019 02:09 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Andri Saubani

Cuaca dingin ekstrem akibat Polar Vortex di AS (ilustrasi)

Cuaca dingin ekstrem akibat Polar Vortex di AS (ilustrasi)

Foto: VOA
Suhu turun mencapai minus 34 derajat Celcius di Amerika Serikat.

REPUBLIKA.CO.ID,  ILLINOIS -- Tumpukan salju tebal yang melanda Amerika Serikat (AS) selama sepekan terakhir kini mulai surut. Namun, dikabarkan lebih dari 24 orang meninggal akibat cuaca ekstrem ini. Penyebab kematian pun beragam, mulai dari cedera, radang dingin, patah tulang, serangan jantung, hingga keracunan karbon monoksida.

Seperti yang terjadi di Illinois, di mana terdata sekitar 229 kasus radang dingin dan hipotermia sejak Selasa (29/1) lalu. Keadaan ini semakin parah sejak suhu semakin turun menjadi minus 34 derajat Celcius atau lebih rendah, ditambah hembusan angin dingin bersuhu minus 45 derajat Celcius di beberapa wilayah.

Hennepin Healthcare di Minneapolis mengaku bisanya hanya melayani 30 pasien radang dingin selama musim dingin. Namun, kini harus melayani banyak sekali pasien radang dingin dan terus bertambah.

"Saya benar-benar melihat lebih banyak pasien radang dingin daripada yang pernah saya lihat dalam seluruh karir saya hanya dalam tiga hari terakhir," kata Dr. Andrea Rowland-Fischer, seorang dokter gawat darurat di Hennepin Healthcare kepada ABC News, Ahad (3/1).

Sebagian besar pasien, katanya, memiliki masalah mendasar yang menyulitkan mereka untuk mengurus diri mereka sendiri, seperti mereka yang mengalami keterlambatan perkembangan, sakit mental, berusia sangat muda dan sangat tua. Selain itu, pasien juga termasuk orang-orang dengan luka-luka yang terkait dengan narkoba dan alkohol, juga orang-orang yang pingsan atau tidak menyadari bahwa mereka kedinginan atau terluka.

"Ini memilukan ketika ada orang yang tidak bisa menjaga diri mereka sendiri dan terekspos, hanya karena mereka melarikan diri dari perawatan yang diberikan atau karena mereka tidak diawasi,” ujar Andrea.

Sementara sebagian pasien lain, kata dia adalah mereka yang mengalami radang dingin dalam perjalanan ke tempat kerja, terlebih setelah terkena hawa dingin untuk waktu yang singkat, seringkali pada tangan, kaki, telinga, dan wajah. Mereka juga termasuk orang-orang yang terjebak di luar rumah dan tidak mengira mereka dapat membeku jika keluar tanpa sarung tangan atau pelindung lainnya.

“Beberapa diperlukan perawatan maksimal, atau masuk ke unit luka bakar rumah sakit untuk terapi yang termasuk obat untuk mengembalikan sirkulasi untuk mencoba menghindari amputasi,” lanjut Andrea.

Meski begitu, amputasi harus tetap dilakukan untuk beberapa pasien dengan luka yang telah membusuk setelah empat hingga sepuluh hari cedera. Banyak pula pasien yang memutuskan dirawat inap untuk menghindari jalan yang licin dan suhu di bawah nol derajat.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA