Kamis 03 May 2018 15:34 WIB

Bahaya Baru Mengintai Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Bahaya baru yang mengintai pengungsi Rohingya akan muncul selama musim hujan

Rep: Marniati/ Red: Nidia Zuraya
Pengungsi Muslim Rohingya melintasi sungai Naf di perbatasan Myanmar-Bangladesh, untuk menyelematkan diri mereka dari genosida militer Myanmar. (foto file)
Foto: AP/Bernat Armangue
Pengungsi Muslim Rohingya melintasi sungai Naf di perbatasan Myanmar-Bangladesh, untuk menyelematkan diri mereka dari genosida militer Myanmar. (foto file)

REPUBLIKA.CO.ID, KUTUPALONG -- Para pengungsi Rohingya di Bangladesh menghadapi bahaya baru. Memasuki musim hujan, bencana banjir dan longsor mengintai pengungsi Rohingya.

Musim hujan tahunan diprediksi akan menyapu kemah-kemah pengungsian di mana sekitar 700 ribu Muslim Rohingya telah tinggal sejak tahun lalu. Gubuk bambu dan plastik, yang dibangun di sepanjang lereng perbukitan yang tak berujung, kini menghadapi ancaman banjir setinggi 40 hingga 60 sentimeter.

"Saya tidak akan bisa menyalakan api. Sumur akan banjir dan saya tidak akan bisa mendapatkan air. Para kakus akan dihancurkan. Rumah itu mungkin juga rusak," ujar salah seorang pengungsi sambil terisak, Rahana Khatun (45).

Khatun meninggalkan Myanmar tahun lalu bersama suami dan lima anaknya. Ia mengaku begitu khawatir dengan datangnya musim penghujan.

Otoritas pemerintah dan lembaga bantuan telah memperingatkan potensi bencana karena hujan lebat tahun ini. Musim hujan terjadi di Bangladesh pada April dan mencapai puncaknya antara Juni dan Agustus. Pada periode ini hujan akan terjadi hampir setiap hari.

Lembaga-lembaga bantuan telah memposisikan pra-penempatan di seluruh kemah pengungsian. Ini karena bencana banjir dapat dengan mudah menghalangi jalan menuju makanan, air dan perawatan medis.

Selain banjir, bahaya tanah longsor juga mengintai pengungsi. Ini karena kebanyakan pepohonan telah ditebang habis oleh pengungsi untuk dijadikan kayu bakar.

Hujan telah mengendurkan tanah di lereng bukit yang curam, dan berton-ton tanah telah bergeser di beberapa tempat. Sementara segelintir orang telah direlokasi, sebagian besar tetap berisiko.

"Tidak ada lagi pepohonan, tidak ada lagi akar, sehingga bisa ada tanah longsor besar, mengubur orang-orang yang tinggal di dasar perbukitan dan membawa mereka yang tinggal di puncak bukit. Jadi itu risiko utama," kata juru bicara UNICEF Benjamin Steinlechner.

Ia mengatakan kekhawatiran yang lebih besar adalah topan yang terjadi di Teluk Benggala.

Topan sering membunuh ribuan orang di Bangladesh, dengan badai menyapu daerah dataran rendah. Bangladesh telah membuat kemajuan luar biasa dalam melawan badai selama beberapa dekade terakhir.

Mereka memasang jaringan sistem peringatan dan tempat perlindungan. Tetapi tidak ada tempat perlindungan yang diperkuat di setiap kemah pengungsian.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Bangladesh memperkirakan setidaknya 100 ribu pengungsi akan terkena bahaya ekstrim selama musim hujan.

"Jika ada angin topan, sebenarnya tidak banyak lagi yang bisa kita lakukan. Rumah-rumah akan hancur. Itu adalah risiko yang dihadapi semua orang di kemah pengungsian saat ini,"kata Steinlechner.

Ia mengatakan, saat ini tim sedang memberi pengarahan kepada pengungsi terkait tindakan yang harus mereka lakukan dalam menghadapi situasi darurat.

Pekerja konstruksi membangun 200 rumah baru di bagian kemah pengungsian Kutupalong. Rumah-rumah ini dibangun berkat bantuan dari donatur luar negeri.

Bangunan akan memiliki lantai beton, dinding bambu dan atap terpal. Pekerja lain menanam rumput dan pohon di sekitar rumah untuk membantu mencegah erosi dan tanah longsor.

Namun rumah-rumah itu diprediksi tidak akan mampu menahan badai besar. "Itu tidak cukup, tidak sama sekali. Hanya 200 keluarga akan direlokasi di sini, tapi apa yang akan terjadi pada ribuan keluarga lain?"kata mandor bangunan,Dipu Dhali.

Di kemah-kemah pengungsian, warga melakukan apa pun yang mereka bisa untuk mempersiapkan musim penghujan ini. Mereka menggunakan karung pasir, tali dan bambu.

Hazera Begum membantu suaminya untuk memperkuat rumah mereka, di perbukitan yang curam di kemah pengungsian Balukhali. Mereka memasang lebih banyak terpal bambu dan plastik. Ini adalah hal yang bisa dilakukan Rohingya untuk mencegah bencana terjadi

"Hari hujan akan datang," katanya.

Ribuan Rohingya telah tinggal di Bangladesh selama beberapa dekade. Mereka melarikan diri dari tindakan keras pasukan keamanan Myanmar.

Militer Myanmar melancarkan kampanye kekerasan pada akhir Agustus lalu sebagai tanggapan atas serangan kelompok pemberontak Rohingya. Ribuan orang diyakini tewas dalam tindakan keras itu. PBB menyebut tindakan itu sebagai pembersihan etnis.

Rohingya ditolak kewarganegaraannya di Myanmar. Banyak orang di Myanmar melihat mereka sebagai imigran gelap dari Bangladesh, atau orang Bengali. Sebagian besar telah lama hidup dalam kemiskinan di negara Rakhine Myanmar.

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement